Model Pembelajaran dan Model Quantum Teaching

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Menurut Eggen dan Kauchak model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk mengajar. Menurut Joyce model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum dan lain-lain. Setiap model pembelajaran mengarahkan guru dalam mendesain pembelajaran untuk membantu siswa sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai (Trianto, 2007).

Menurut Widdiharto (2004) model pembelajaran adalah suatu tindakan atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan guru agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat dicapai dengan lebih efektif dan efesien.

Menurut Tim MKPBM (2001) model pembelajaran dimaksudkan sebagai pola interaksi siswa dengan guru di dalam kelas yang menyangkut strategi, pendekatan, metode dan teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksaaan kegiatan belajar mengajar di kelas.

Menurut Trianto (2007) istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur. Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut ialah :

(1)   rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya,

(2)   landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai),

(3)   tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil,

(4)   lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

Model quantum teaching pertama kali muncul di Super Camp, sebuah program percepatan Quantum Learning yang ditawarkan oleh learning Forum. Learning Forum adalah sebuah perusahaan yang pendidikan internasional yang menekankan pada perkembangan keterampilan akademis dan keterampilan pribadi seseorang. Hasilnya menunjukkan bahwa murid-murid yang mengikuti Super Camp mendapat nilai yang lebih baik, lebih banyak berpartisipasi dan merasa lebih bangga akan diri mereka sendiri (A’la, 2010).

Menurut DePorter, dkk (2010) model quantum teaching terbagi atas dua bagian yaitu:

  1. Konteks

Konteks adalah latar atau lingkungan belajar yang merupakan keakraban ruang kelas itu sendiri, meliputi suasana, landasan serta rancangan belajar yang merupakan suatu keseimbangan instrumen dalam membangun kerja sama antara guru dan siswa. Guru menghendaki konteks tersebut positif, mendukung dan mengundang selera. Konteks dalam pembelajaran quantum teaching mempunyai empat aspek:

(a)                            suasana yang memberdayakan

Suasana kelas mencakup bahasa yang dipilih, cara menjalin rasa simpati terhadap siswa dan sikap guru terhadap sekolah serta belajar. Suasana pembelajaran penuh kegembiraan. Hindari suasana matematika kaku, dingin dan menyeramkan,

 

 

(b)   landasan yang kukuh

Landasan adalah kerangka kerja, tujuan, prinsip, keyakinan, kesepakatan, kebijakan, prosedur dan aturan bersama yang memberi guru dan siswa sebuah pedoman untuk bekerja dalam komunitas belajar matematika,

(c)    lingkungan yang mendukung

Lingkungan adalah cara guru atau sekolah menata ruang kelas, pencahayaan, warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, musik dan semua hal yang dapat mendukung proses belajar,

(d)   rancangan belajar yang dinamis

Rancangan adalah penciptaan terarah unsur-unsur penting yang bisa menumbuhkan minat siswa, mendalami makna dan memperbaiki proses tukar-menukar informasi. Dalam arti informasi awal yang diperoleh siswa dalam mengenal konsep dan penjelasan pelajaran dari guru tentang konsep yang bersangkutan. Ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam mengorkestrasi  perancangan pengajaran yang dinamis, yaitu:

1)      memberitahu siswa manfaat materi pelajaran yang akan dipelajari,

2)      menyajikan isi pelajaran dengan menggunakan unsur visual, auditorial dan kinestetik,

3)      materi pelajaran diajarkan pertama kali pada kelompok besar (seluruh kelas), kemudian buat kelompok kecil atau pasangan dan terakhir selesaikan secara perseorangan (menjawab pertanyaan di depan kelas, pekerjaan rumah, tes atau kuis),

4)      pembelajaran dapat dilakukan dengan pemberian cerita (metafora), perumpamaan, sugesti dan

5)      melaksanakan kerangka rancangan pengajaran TANDUR.

  1. Isi

Isi adalah bagaimana tiap frase materi pembelajaran diberikan yakni meliputi cara penyajian oleh guru. Isi juga meliputi fasilitasi guru dan memanfaatkan bakat setiap siswanya. Isi dalam pembelajaran quantum teaching mempunyai empat aspek:

(a)    penyajian yang prima

Guru adalah model (teladan) untuk ditiru. Oleh karena itu guru harus menggunakan cara komunikasi yang sama dan sebangun dalam penyampaian materi terhadap siswa, karena setiap cara penyampaian materi yang digunakan, akan sangat berpengaruh terhadap cara siswa menerima pembelajaran. Guru adalah faktor paling berpengaruh dalam kesuksesan siswa sebagai pelajar. Dr. Georgi Lozanov menyatakan bahwa tindakan yang paling ampuh yang dapat dilakukan oleh guru untuk siswanya adalah dengan memberikan teladan tentang makna menjadi seorang pelajar. Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan presentasi yang prima, yaitu:

 

 

 

1)      sikap quantum teacher (antusias, berwibawa, positif, supel, humoris, luwes, menerima, fasih, tulus, spontan, menarik dan tertarik, menganggap siswa mampu, menetapkan dan memelihara harapan tinggi),

2)      empat prinsip komunikasi ampuh meliputi munculkan kesan, arahkan fokus, inklusif (bersifat mengajak) dan spesifik (bersifat tepat sasaran),

(b)   fasilitasi yang luwes

Memudahkan tingkat partisipasi siswa dengan memfasilitasi proses pembelajaran. Pertama, selalu mulai dengan mengetahui apa yang diinginkan sebagai hasil akhir. Mulailah dengan visi yang jelas mengenai hasilnya. Hasil tersebut bisa berupa tingkat hormat di kelas, kualitas kerja, jangka waktu untuk menyelesaikan tugas dan lain-lain. Dengan mengetahui hasil yang diinginkan secara jelas, maka guru akan mampu tetap berada pada jalur proses kegiatan belajar mengajarnya,

(c)    keterampilan belajar untuk belajar

Membuat siswa mengetahui gaya belajarnya masing-masing, setiap orang belajar dengan cara yang berbeda-beda. Siswa belajar lebih cepat dan lebih efektif jika mereka menguasai keterampilan konsentrasi terfokus, cara mencatat, organisasi dan persiapan tes, membaca cepat dan teknik mengingat,

(d)   keterampilan hidup

Hal-hal yang dicapai pada kehidupan nyata, mengenai kepercayaan diri, mempelajari cara-cara mengekspresikan diri dan merasa bersemangat mengenai kemungkinan-kemungkinan potensi diri mereka. Ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan keterampilan hidup, yaitu: 1) hidup di atas garis, 2) komunikasi yang jernih dan 3) membina hubungan dengan pertalian.

Model quantum teaching dirancang dalam suatu kerangka rancangan pengajaran yang dikenal dengan singkatan TANDUR (DePorter dkk., 2010). TANDUR merupakan singkatan dari:

(1) tumbuhkan

Tumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah manfaat bagiku (AMBAK) dan manfaat kehidupan siswa”.

Dalam hal ini guru memberikan motivasi, semangat dan apersepsi. Langkah-langkah tersebut dilakukan pada saat kegiatan pendahuluan pembelajaran.

(2) alami

Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua siswa.

Siswa mengalami sendiri dalam proses memperoleh pengetahuan dengan praktek langsung dalam menyelesaikan masalah. Siswa berdiskusi, mengerti dan memahami pelajaran. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat kegiatan inti pembelajaran.

(3) namai

Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi dan sebuah masukan.  Mereka mendapatkan pengalaman untuk benar-benar membuat pengetahuan tersebut berarti.

Dalam hal ini siswa menemukan rumus, informasi dan pengetahuan-pengetahuan baru dengan alat bantu pembelajaran. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat kegiatan inti pembelajaran.

(4) demontrasikan

Sediakan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan bahwa mereka tahu. Siswa membutuhkan kesempatan yang sama untuk membuat kaitan, berlatih dan menunjukkan apa yang mereka ketahui.

Siswa diberi peluang untuk menerapkan pengetahuan mereka dalam pelajaran, sehingga siswa bisa menunjukkan dan menyampaikan kemampuannya yang telah didapat, dialami sendiri oleh siswa. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat kegiatan inti pembelajaran.

(5) ulangi

Tunjukkan siswa cara-cara mengulang materi dan menegaskan, “aku tahu bahwa aku memang tahu ini”.

Guru mengulang materi pembelajaran sehingga siswa akan selalu teringat dengan materi yang telah dipelajarinya. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat kegiatan inti pembelajaran.

(6) rayakan

Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan.

Rayakan dapat berupa pujian. Siswa saling memuji antar teman dengan memberikan tepuk tangan dan bersama-sama mengucapkan 3 kali hore. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat kegiatan penutup pembelajaran.

RPP Quantum teaching

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s