Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Model pembelajaran dimaksudkan sebagai pola interaksi siswa dengan guru di dalam kelas yang menyangkut strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas (Tim MKPBM, 2001).

Menurut Jihad dan Haris (2008), model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi peserta didik, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pengajaran atau setting lainnya.

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu pola atau rencana yang digunakan oleh guru sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas yang menyangkut strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Macam-macam model pembelajaran di antaranya adalah model pembelajaran langsung (direct instruction model), model pembelajaran kooperatif (cooperative learning model), dan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) (Suprijono, 2009).

Model pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),    di mana penerapan model pembelajaran ini lebih dipusatkan pada siswa.

 

Menurut Kunandar (2009), pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar.

Suyatno (2009) menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajarannya berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata, lalu dari masalah ini siswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya (prior knowledge), sehingga dari sini akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru.

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pembelajaran yang diawali dengan masalah dalam kehidupan nyata yang mendorong siswa untuk belajar memecahkan masalah sehingga diperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.

Suatu masalah dapat dipandang sebagai “masalah” merupakan hal yang sangat relatif. Masalah biasanya memuat suatu situasi yang mendorong seseorang untuk menyelesaikannya tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaikannya. Jika suatu masalah diberikan kepada seorang anak dan anak tersebut langsung tahu cara menyelesaikannya dengan benar, maka soal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai masalah (Tim MKPBM, 2001).

Menurut Polya (Tim MKPBM, 2001), dalam pemecahan masalah terdapat empat langkah yang harus dilakukan, yaitu memahami masalah, merencanakan pemecahannya, menyelesaikan masalah sesuai rencana, dan memeriksa kembali hasil yang diperoleh (looking back). Empat tahap pemecahan masalah tersebut merupakan satu kesatuan yang sangat penting untuk dikembangkan. Tanpa adanya pemahaman terhadap masalah yang diberikan, siswa tidak akan dapat menyelesaikan masalah yang diberikan. Setelah siswa dapat memahami masalah, selanjutnya mereka harus mampu menyusun rencana pemecahannya. Jika rencana pemecahan suatu masalah telah selesai dibuat, selanjutnya dilakukan penyelesaian masalah sesuai dengan rencana yang dianggap paling tepat. Langkah terakhir dari proses pemecahan masalah adalah melakukan pengecekan terhadap apa yang telah dilakukan mulai dari tahap pertama sampai tahap ketiga.

Waktu yang dibutuhkan setiap orang untuk menyelesaikan masalah sangatlah relatif. Jika waktu yang diberikan untuk menyelesaikan masalah tidak dibatasi, maka kecenderungan orang tersebut tidak akan berkonsentrasi secara penuh pada proses penyelesaian masalah yang diberikan. Sebaliknya, jika dalam menyelesaikan suatu masalah dibatasi dengan waktu yang ketat, maka orang tersebut akan berkonsentrasi secara penuh pada penyelesaian masalah tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa mendorong siswa agar mampu memanfaatkan waktu yang disediakan dalam proses pemecahan suatu masalah merupakan hal yang perlu dikembangkan dari waktu ke waktu.

Peran guru dalam pembelajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, serta memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Pembelajaran berbasis masalah tidak dapat dilaksanakan tanpa guru mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka. Secara garis besar pembelajaran berbasis masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri (Kunandar, 2009).

Menurut Ibrahim dan Nur (Kunandar, 2009) ciri-ciri pembelajaran berbasis masalah antara lain sebagai berikut:

(1)     pembelajaran pertanyaan atau masalah

Pembelajaran berbasis masalah bukan hanya mengorganisasikan prinsip-prinsip atau keterampilan akademik tertentu, tetapi mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang kedua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk peserta didik. Mereka mengajukan situasi kehidupan nyata yang autentik, menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi itu.

(2)     berfokus pada keterkaitan antar disiplin

Meskipun pembelajaran berbasis masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu, tetapi dalam pemecahannya melalui solusi, siswa dapat meninjaunya dari berbagai mata pelajaran yang ada.

(3)     penyelidikan autentik

Pembelajaran berbasis masalah mengharuskan peserta didik melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi dan merumuskan kesimpulan.

(4)     menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya

Pembelajaran berbasis masalah menuntut peserta didik untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat berupa transkrip debat, laporan, model fisik, dan video.

(5)     kerjasama

Pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa yang bekerjasama baik berpasangan ataupun kelompok kecil.

Adapun tujuan pembelajaran berbasis masalah antara lain sebagai berikut (Kunandar, 2009):

(1)     membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa,

(2)     membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual,

(3)     belajar tentang berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi,

(4)     menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri.

Pembelajaran berbasis masalah menurut Kunandar (2009) terdiri dari lima tahapan utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian hasil kerja siswa. Gambaran tahapan pembelajaran berbasis masalah dapat dilihat pada tabel berikut:

 

Tabel 1 Tahapan Pembelajaran Berbasis Masalah

Tahapan

Tingkah Laku Guru

Tahap-1

Orientasi siswa kepada masalah

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi  siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah.
Tahap-2

Mengorganisasi siswa untuk belajar

Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
Tahap-3

Membimbing penyelidikan individual ataupun kelompok

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap-4

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
Tahap-5

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

(Kunandar, 2009)

Kelebihan pembelajaran berbasis masalah menurut Kusumaningsih (2008) antara lain, membuat siswa lebih aktif, meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, menimbulkan ide-ide baru, serta meningkatkan keakraban dan kerjasama. Kurniawan (2008) mengatakan kelebihan pembelajaran berbasis masalah adalah mendidik siswa berpikir sistematis dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan, serta siswa akan terampil menyelesaikan soal yang berhubungan dengan materi yang dipelajari.

Kekurangan pembelajaran berbasis masalah menurut Kusumaningsih (2008) antara lain, model pembelajaran yang biasa dilakukan secara berkelompok membuat siswa yang malas menjadi semakin malas dan siswa merasa guru tidak pernah menjelaskan karena model pembelajaran ini menuntut siswa yang lebih aktif. Kurniawan (2008) mengatakan kekurangan pembelajaran berbasis masalah adalah model ini membutuhkan waktu yang lama dan perlu ditunjang oleh buku yang dapat dijadikan pemahaman dalam kegiatan pembelajaran.

Untuk meminimalkan kekurangan pada pembelajaran berbasis masalah, maka guru harus memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran, memberikan bimbingan dalam mengumpulkan informasi dan penyelesaian masalah, serta menyediakan bahan ajar lain yang dapat menunjang pemahaman dalam kegiatan pembelajaran.

RPP Pembelajaran Berbasis masalah (PBM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s