Proposal Skripsi

MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA  DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) DI KELAS VII C SMP NEGERI 9 BANJARBARU TAHUN PELAJARAN 2010/2011

LATAR BELAKANG

Pembelajaran hakikatnya adalah usaha sadar dari seorang guru dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan untuk membelajarkan  siswanya dan mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya. Tujuan pembelajaran merupakan sesuatu yang ingin dicapai setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar. Dari waktu ke waktu tujuan pembelajaran perlu disempurnakan sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan perkembangan siswa. Oleh karena itu, guru sebagai pengelola pembelajaran diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang berkualitas.

Pembelajaran yang berkualitas adalah pembelajaran yang melibatkan seluruh komponen utama proses belajar mengajar, yaitu guru, siswa dan interaksi antara keduanya, serta ditunjang oleh berbagai unsur-unsur pembelajaran, meliputi tujuan pembelajaran, pemilihan materi pelajaran, sarana prasarana yang menunjang, situasi atau kondisi belajar yang kondusif, lingkungan belajar yang mendukung kegiatan belajar mengajar (KBM), serta evaluasi yang sesuai dengan kurikulum. Prestasi belajar dapat dioptimalkan merlalui peningkatan kualitas pembelajaran.

Pembelajaran matematika pada dasarnya bertujuan untuk membantu melatih pola pikir siswa agar dapat memecahkan masalah dengan kritis, logis, cermat dan tepat. Disamping itu agar siswa terbentuk kepribadiannya serta terampil menggunakan matematika dalam kehidupan sehari – hari. Namun banyak siswa yang menganggap bahwa matematika itu pelajaran yang menakutkan sehingga siswa tidak berpartisipasi aktif dalam pembelajaran secara optimal bahkan cenderung pasif. Oleh karena itu dalam pembelajaran matematika membutuhkan metode yang tepat. Kesalahan menggunakan metode dapat menghambat tercapainya tujuan pembelajaran matematika yang diinginkan. Dampak yang lain adalah terganggunya kestabilan psikologi peserta didik. Sehingga diperlukan pemilihan suatu strategi yang dapat melibatkan atau mengaktifkan siswa dalam belajar.

Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru matematika kelas VII C SMP Negeri 9 banjarbaru, aktivitas belajar siswa masih kurang optimal dalam pembelajaran, karena masih terdapat beberapa masalah sebagai berikut:

  1. Metode mengajar yang diterapkan guru masih konvensional, sehingga belum bisa mendorong siswa berani mengkomunikasikan apa yang ada dipikiran, bahkan membuat siswa pasif dan mempertebal rasa takut siswa.
  2. Ketika guru mengajukan pertanyaan, siswa kurang tanggap terhadap pertanyaan guru. Siswa tampak diam dan tidak bersemangat untuk menjawab pertanyaan. Hanya nampak beberapa siswa yang antusias menjawab pertanyaan. Saat guru memberi kesempatan bertanya, jarang sekali ada siswa yang mengajukan pertanyaan.
  3. Sebagian besar siswa mengalami kendala pada pelajaran Matematika karena kurangnya motivasi. Rendahnya motivasi belajar ini disebabkan karena kesulitan dalam memahami materi yang disampaikan dan munculnya gejala verbalisme, seperti kesulitan menghapal rumus.

Untuk mengantisipasi masalah tersebut agar tidak berkelanjutan maka perlu dicarikan metode pembelajaran yang tepat sehingga dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran matematika. Para guru terus berusaha menyusun dan menerapkan berbagai model dan variasi agar siswa tertarik dan bersemangat dalam belajar matematika.

Salah satu metode pembelajaran untuk mengantisipasi kurangnya aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran matematika adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI. Pemilihan pembelajaran kooperatif TAI dalam kegiatan belajar mengajar dimaksudkan untuk :

  1. Membatasi keterlibatan guru dalam pemeriksaan dan pengelolaan rutin.
  2. Belajar melakukan kerja sama dengan kelompok belajar.
  3. Meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar dalam sebuah tim.
  4. Meningkatkan partisipasi siswa untuk dapat menguasai materi dengan cara mengelola kemampuan individualnya dalam sebuah tim.
  5. Memotivasi siswa untuk mempelajari materi yang diberikan dengan cepat dan akurat, dan tidak akan bisa berbuat curang atau menyelesaikan dengan jalan pintas.

Penerapan pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization (TAI) diharapkan akan mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul:

”MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) DI KELAS VII C  SMP NEGERI 9 BANJARBARU TAHUN PELAJARAN 2010/2011”

PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut.

“Apakah melalui penerapan model pembelajaran Cooperative Learning tipe TAI dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran matematika di kelas VII C  SMP Negeri 9 Banjarbaru?”

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan merupakan arah dari suatu kegiatan agar tercapai hasil seperti yang diharapkan. Maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif  tipe TAI (Team Assisted Individualization) dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa kelas VII C SMP Negeri 9 Banjarbaru

MANFAAT PENELITIAN

Hasil dari penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi

  1. Peneliti :
  2. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pembelajaran kooperatif sebagai wahana untuk mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan.
  3. Dapat memberikan pengalaman yang berharga dan motivasi bagi peneliti untuk memilih strategi pembelajaran yang kelak diterapkan di sekolah.
    1. Guru, sebagai bahan pemilihan dan pertimbangan dalam memilih model pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar. Sebagai salah satu masukan pengalaman bagi guru untuk menerapkan strategi pembelajaran kooperatif.
    2. Siswa, sebagai upaya menumbuhkan motivasi dan semangat belajar siswa serta melatih siswa untuk saling bekerja sama dengan siswa lain.
    3. Sekolah, sebagai bahan masukan untuk meningkatkan kualitas pengajaran matematika di sekolah

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian belajar dan Faktor – faktor yang Mempengaruhinya

Belajar merupakan proses dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup tidak lain adalah hasil dari belajar. (Abu Ahmadi & Widodo Supriyono, 2004)

Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar.(Dimyati & Mudjiono)

Belajar secara umum diartikan sebagai perubahan pada individu yang terjadi melalui pengalaman, dan bukan karena pertumbuhan atau perkembangan tubuhnya atau karakteristik seseorang sejak lahir. (Trianto, 2010)

Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu sebagai hasil dari pengalamannya dalam berinteraksi dengan lingkungan. Belajar bukan hanya sekedar menghapal, melainkan suatu proses mental yang terjadi dalam diri seseorang. (Rusman, 2010).

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. (Slameto, 2003)

Belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan. (Oemar Hamalik, 2008)

Belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. (Muhibbin Syah, 2004)

Menurut Slameto (2003) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

  1. Faktor intern
  2. Faktor Jasmaniah, yaitu kesehatan dan cacat tubuh
  3. Faktor Psikologis, yaitu intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan
  4. Faktor kelelahan, yaitu kelelahan jasmani dan rohani
    1. Faktor Ekstern
    2. Faktor keluarga, yaitu cara orang tua mendidik, relasi antaranggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan.
    3. Faktor sekolah, yaitu metode mengajar, kurikulum, relasi guru dan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah
    4. Faktor masyarakat, yaitu kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat.

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh murid sebagai anak didik dalam kegiatan pembelajaran.

Aktivitas Belajar

Dalam kegiatan pembelajaran, aktivitas siswa sebagai subjek didik sangat diperlukan sebab kegiatan yang dilakukan oleh siswa bukan sesuatu yang dilakukan terhadap siswa. Dengan demikian dalam suatu pembelajaran, aktivitas belajar merupakan tanggung jawab siswa sedangkan guru berperan sebagai fasilitator yang membantu keaktifan siswa mencapai tujuan belajarnya. Hal tersebut berarti bahwa dalam pembelajaran diperlukan keterlibatan siswa dan guru secara aktif baik fisik maupun mental. (Fandria, 2008)

Aktivitas siswa adalah keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian dan aktivitas dalam kegiatan pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Peningkatan aktivitas siswa, yaitu meningkatnya jumlah siswa yang aktif belajar, meningkatnya jumlah siswa yang bertanya dan menjawab, meningkatnya jumlah siswa yang saling berinteraksi membahas materi pembelajaran. indikator aktivitas siswa dapat dilihat dari: pertama, mayoritas siswa beraktivitas dalam pembelajaran; kedua, aktivitas pembelajaran didominasi oleh kegiatan siswa; ketiga, mayoritas siswa mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru dalam LKS. (Kunandar, 2008)

Karena aktivitas belajar itu banyak sekali macamnya maka para ahli mengadakan klasifikasi atas macam-macam aktivitas tersebut. Beberapa di antaranya ialah: 1) Paul D.Dierich membagi kegiatan belajar dalam 8 kelompok, ialah: kegiatan-kegiatan visual, lisan, mendengarkan, menulis,  menggambar, metrik, mental, dan emosional. 2) Getrude M. Whipple membagi  kegiatan-kegiatan murid sebagai berikut: bekerja dengan alat-alat visual, ekskursi dan trip, mempelajari masalah-masalah, mengapresiasi literatur, ilustrasi dan konstruksi, bekerja menyajikan informasi, cek dan tes. (Oemar Hamalik, 2009)

Berikut ini dikemukakan beberapa contoh aktivitas belajar dalam belajar situasi. Mendengarkan, Memandang, Meraba, membau, dan mencicipi/mengecap, Menulis atau mencatat, Membaca, membuat ikhtisar atau ringkasan dan menggarisbawahi, mengamati tabel-tabel, diagram, dan bagan, menyusun paper atau kertas kerja, mengingat, berpikir, latihan atau praktek. (Abu Ahmadi & Widodo Supriyono, 2004)

Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik. Dalam keadaan di mana anak didik/siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan kesulitan belajar. Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor inteligensi yang rendah akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor lain, salah satunya model pembelajaran yang dipilih oleh guru.

Pengertian Model Pembelajaran

Model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Menurut Arends, model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.(Agus Suprijono, 2010)

Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya. (Rusman, 2010)

Menurut Trianto (2010 dalam Kardi dan Nur, 2000: 9) istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode atau prosedur. Model pengajaran mempunyai empat cirri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut ialah: (1) rasional teoritis logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya; (2) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai); (3) tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil; dan (4) lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

Model pembelajaran yang banyak digunakan dan menjadi perhatian serta dianjurkan oleh para ahli pendidikan adalah model pembelajaran kooperatif.

Model Pembelajaran kooperatif

Pembelajaran kooperatif bernaung dalam teori konstruktivis. Pembelajaran ini muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif. (Trianto, 2010)

Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekadar belajar dalam kelompok. Ada unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif. Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar dari guru kepada siswa. Siswa dapat saling membelajarkan sesama siswa lainnya. Pembelajaran oleh rekan sebaya lebih efektif daripada pembelajaran oleh guru. Mengapa pembelajaran kooperatif perlu? Dalam situasi belajar pun sering terlihat sifat individualistis siswa. Siswa cenderung berkompetensi secara individual, bersikap tertutup terhadap teman, kurang memberi perhatian ke teman sekelas, bergaul hanya dengan orang tertentu, ingin menang sendiri, dan sebagainya. Jika keadaan ini dibiarkan tidak mustahil akan dihasilkan warga negara yang egois, inklusif, introfert, kurang bergaul dalam masyarakat, acuh tak acuh dengan tetangga dan lingkungan, kurang menghargai orang lain, serta tidak mau menerima kelebihan dan kelemahan orang lain. Gejala seperti ini kiranya mulai terlihat pada masyarakat kita, sedikit-sedikit demonstrasi, main keroyokan, saling sikut, dan mudah terprovokasi. (Rusman, 2010)

Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus ditetapkan. Lima unsur tersebut adalah: saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, interaksi promotif, komunikasi antaranggota, dan pemrosesan kelompok. (Agus Suprijono, 2010)

Sintak model pembelajaran kooperatif terdiri dari 6 (enam) fase.

FASE-FASE

PERILAKU GURU

Fase 1 : Present Goal and setMenyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik menjelaskan tujuan pembelajaran danmempersiapkan peserta didik siap belajar
Fase 2 : Present informationMenyajikan informasi Mempersentasikan informasi kepadaPeserta didik secara verbal
Fase 3 : Organize students into learningTeams

Mengorganisir peserta didik ke dalam tim-tim belajar

Memberikan penjelasan kepada pesertaDidik tentang cara pembentukan tim belajar dan membantu kelompok melakukan transisi yang efisien
Fase 4 : Assist team work and studyMembantu kerja tim dan belajar Membantu tim-tim belajar selama peserta didik mengerjakan tugasnya
Fase 5 : Test on the materialsmengevaluasi Menguji pengetahuan peserta didik mengenai berbagai materi pembelajaran atau kelompok-kelompok mempersentasikan hasil kerjanya
Fase 6 : Provide recognitionMemberikan pengakuan atau penghargaan Mempersiapkan cara untuk mengakuiUsaha dan prestasi individu maupun kelompo

Pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assited Individualization)

Pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin. Tipe ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena itu kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah, ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.

Model pembelajaran kooperatif tipe TAI merupakan model pembelajaran yang membentuk kelompok kecil yang heterogen dengan latar belakang cara berfikir yang berbeda untuk saling membantu terhadap siswa lain yang membutuhkan bantuan (Suyitno,2002:9).  Dalam model ini, diterapkan bimbingan antar teman yaitu siswa yang pandai bertanggung jawab terhadap siswa yang lemah. Disamping itu dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kelompok kecil. Siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya, sedangkan siswa yang lemah dapat terbantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Unsur–unsur program dalam model pembelajaran tipe TAI menurut     Slavin adalah sebagai berikut.

(a)    Kelompok

Para siswa dalam TAI dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang   beranggotakan  4 sampai 5 orang, seperti pada STAD dan TGT.

(b)   Tes Penempatan

Para siswa diberikan tes pra-program dalam bidang operasi matematika pada permulaan pelaksanaan program. Mereka ditempatkan pada tingkat yang sesuai dalam program individual berdasarkan kinerja mereka dalam tes ini.

(c)    Materi-materi Kurikulum

Materi-materi kurikulum ini diadaptasi dari Slavin (2009) meliputi halaman panduan (LKK) yang berisi konsep-konsep materi beserta contoh soal dan pembahasannya, soal-soal latihan kemampuan, soal-soal tes formatif A dan tes formatif B, soal-soal tes unit, serta kunci jawaban untuk soal-soal latihan kemampuan, soal-soal tes formatif dan soal-soal tes unit.

(d)   Belajar Kelompok

Belajar kelompok ini adalah serangkaian proses belajar kelompok yang dijabarkan pada langkah-langkah pembelajaran.

(e)    Skor Kelompok dan Penghargaan Kelompok

Pada tiap akhir minggu, guru menghitung skor kelompok. Skor ini didasarkan pada jumlah rata-rata unit yang bisa dicakupi oleh tiap anggota kelompok dan jumlah rata-rata tes unit yang berhasil diselesaikan dengan akurat. Kriterianya dibangun dari kinerja kelompok. Kriteria yang tinggi ditetapkan bagi sebuah kelompok untuk menjadi kelompok super, kriteria sedang untuk menjadi kelompok sangat baik, dan kriteria minimum untuk menjadi kelompok baik. Kelompok-kelompok yang memenuhi kriteria sebagai kelompok super atau kelompok sangat baik menerima sertifikat yang menarik.

(f)    Kelompok Pengajaran.

Guru memberikan bantuan pengajaran selama sekitar sepuluh atau lima belas menit kepada anggota kelompok. Tujuan dari sesi ini adalah untuk mengenalkan konsep-konsep utama kepada para siswa. Ini dirancang untuk membantu para siswa memahami hubungan antara pelajaran matematika yang mereka kerjakan dengan soal-soal yang ditemui dan juga merupakan soal-soal dalam kehidupan nyata.

(g)   Tes Fakta

Pelaksanaan tes-tes kecil berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.

(h)   Unit Seluruh Kelas

Pada akhir tiap tiga minggu, guru menghentikan program individual dan menghabiskan waktu satu minggu untuk mengajari seluruh kelas.

Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TAI yang diadaptasi dari Slavin yaitu :

(1)         siswa membentuk kelompok berdasarkan pembagian kelompok heterogen yang telah ditetapkan oleh guru. Penetapan ini merujuk pada tes penempatan,

(2)         guru menunjuk dua atau tiga orang dalam masing-masing kelompok yang bertugas sebagai pemeriksa jawaban,

(3)         para siswa membaca halaman panduan (LKK) mereka dan meminta teman satu kelompok atau guru untuk membantu bila diperlukan. Selanjutnya mereka akan memulai latihan kemampuan,

(4)         masing-masing siswa mengerjakan empat soal latihan kemudian lembar jawabannya diperiksa oleh pasangan masing-masing dalam kelompoknya. Jika jawaban keempat soal tersebut benar, maka siswa tersebut dapat melanjutkan mengerjakan tes formatif A. Jika ada jawaban yang salah, siswa harus mencoba mengerjakan kembali keempat soal tersebut sampai siswa bersangkutan dapat menyelesaikan keempat soal tersebut dengan benar. Siswa yang pada tahap ini mengalami kesulitan, didorong untuk meminta bantuan kepada guru,

(5)         setelah siswa dapat menjawab keempat soal latihan dengan benar, ia dapat mengikuti tes formatif A yang soalnya menyerupai soal latihan. Pada saat mengerjakan tes formatif, siswa bekerja sendiri sampai selesai. Seorang teman sekelompok akan memeriksa lembar jawabannya dan menghitung skor tes. Apabila siswa tersebut dapat menjawab 80% soal atau lebih dengan benar, maka pemeriksa akan menandatangani hasil tes itu untuk menunjukkan bahwa siswa tersebut telah dinyatakan sah oleh teman satu kelompoknya untuk mengikuti tes unit. Bila siswa tersebut tidak bisa mengerjakan 80% soal dengan benar, guru akan dipanggil untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa tersebut. Guru mungkin akan meminta si siswa untuk kembali mengerjakan soal-soal latihan kemampuan kemudian mengerjakan tes   formatif B yang setara dengan tes formatif A, atau jika tidak, siswa tersebut boleh terus melanjutkan ke tes unit. Tak ada siswa yang boleh mengerjakan tes unit sampai dia mengerjakan tes formatif dan pekerjaannya diperiksa oleh temannya,

(6)         tes formatif para siswa ditandatangani oleh siswa pemeriksa yang berasal dari kelompok lain supaya bisa mendapatkan tes unit. Siswa tersebut selanjutnya menyelesaikan tes unitnya, dan siswa pemeriksa akan menghitung skornya.

Model pembelajaran koperatif TAI memiliki kekurangan dan kelebihan. Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif TAI, Slavin (1995:101) menyatakan bahwa belajar kooperatif model TAI mempunyai kelebihan sebagai berikut:

  1. Guru terlibat minimal dalam pengaturan dan pengecekan rutin
  2. Guru akan menggunakan waktunya paling sedikit dalam mengajar kelompok kecil
  3. Pelaksanaan program sederhana
  4. Para siswa dapat mengecek pekerjaan satu sama lain
  5. Mengurangi perilaku yang mengganggu
  6. Mengurangi konflik antar pribadi
  7. Program ini sangat membantu siswa yang lemah
  8. Meningkatkan motivasi belajar pada diri siswa
  9. Meningkatkan hasil belajar

Selain memiliki kelebihan model pembelajaran kooperatif TAI juga memiliki kekurangan. Disebutkan oleh Derc (1991) dalam Anwar (2003) bahwa:

  1. Dibutuhkan waktu yang lama untuk membuat dan mengembangkan perangkat pembelajaran, dan
  2. Jumlah siswa yang besar dalam kelas, maka guru akan mengalami kesulitan dalam memberikan bimbingan kepada siswanya.

HIPOTESIS TINDAKAN

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe TAI dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa kelas VII C SMP Negeri 9 Banjarbaru tahun pelajaran 2010/2011.

METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru atau bekerja sama dengan orang lain (kolaborasi) yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu  proses pembelajaran dikelasnya (Kunandar, 2008).

Subjek dan Objek penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII C SMP Negeri 9 Banjarbaru tahun pelajaran 2010/2011 sebanyak 34 orang. Objek penelitian adalah aktivitas belajar matematika siswa kelas VII C SMP Negeri 9 Banjarbaru tahun pelajaran 2010/2011 pada pokok bahasan segitiga, persegi dan persegi panjang

Tempat dan Waktu penelitian

Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2010/2011 di kelas VII C SMP Negeri 9 Banjarbaru yang beralamat di Jalan Karang Anyar No. 1 Kelurahan Lokatabat Utara, Banjarbaru,  Provinsi Kalimantan Selatan. Penelitian ini direncanakan berlangsung pada minggu pertama sampai dengan minggu keempat bulan April 20111 sebanyak 2 siklus dengan jumlah keseluruhan pertemuan 6 kali. Tiap pertemuan berlangsung selama 80 menit.

Alasan peneliti melakukan penelitian di SMP Negeri 9 Banjarbaru dengan pertimbangan sebagai berikut:

SMP Negeri 9 Banjarbaru memberikan ijin kepada peneliti untuk melakukan penelitian

  1. Jarak antara sekolah dengan rumah peneliti tidak jauh sehingga dapat menghemat biaya transportasi
  2. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di SMP Negeri 9 Banjarbaru secara umum masih menggunakan model pembelajaran konvensional
  3. Aktivitas belajar matematika kelas VII C yang belum optimal sehingga perlu dilakukan penelitian dengan penerapan model Pembelajaran Kooperatif TAI dengan harapan aktivitas belajar siswa  dapat meningkat.

Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri atas dua siklus dengan 6 kali pertemuan yaitu siklus pertama dilaksanakan dengan 3 kali pertemuan (6 jam pelajaran) dan siklus kedua dilaksanakan dengan 3 kali pertemuan (6 jam pelajaran). Penelitian ini dilaksanakan berkolaborasi dengan guru mata pelajaran matematika kelas VII C yaitu Ibu Gusti Nuriyati S.Pd sebagai pelaksana tindakan dan peneliti sebagai pengamat atau observer aktivitas belajar siswa untuk setiap kelompok siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran. Peneliti juga sebagai perencana tindakan artinya sebagai pembuat perangkat pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku, pengumpul data, penganalisis data, perefleksi data hasil observasi dan sekaligus pembuat laporan hasil penelitian.

Rencana Tindakan

Siklus 1

Rencana tindakan pada siklus I adalah sebagai berikut :

Perencanaan Tindakan

Kegiatan-kegiatan pada tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut :

1)      Membuat skenario pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TAI.

2)      Menyusun lembar observasi aktivitas siswa untuk melihat bagaimana kondisi proses kegiatan belajar mengajar di kelas diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe TAI.

3)      Mendesain instrument-instrumen evaluasi yang berupa soal tes tertulis

Pelaksanaan Tindakan

Pada tahap pelaksanaan tindakan, seluruh rencana pembelajaran seperti RPP, LKS atau lembar tugas dan seluruh media atau alat bantu pembelajaran direalisasikan dalam situasi sebenarnya di dalam kelas.

  1. Observasi

Pada tahap ini dilakukan observasi dan pengamatan untuk merekam segala peristiwa dan kegiatan selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Observasi dilakukan terhadap keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi aktivitas belajar siswa.

  1. Refleksi

Pada tahap refleksi ini dilakukan pengolahan data yang diperoleh pada tahap observasi. Ditahap ini pula, diadakan pengkajian data yang telah dihasilkan atau yang belum tuntas pada pelaksanaan tindakan. Hasil observasi akan dijadikan bahan pertimbangan untuk memasuki siklus berikutnya.

Siklus II

Siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I dengan memperhatikan hasil observasi dari pengamat (observer) serta hasil diskusi dengan guru selaku pelaksana tindakan. Hal-hal yang dianggap masih kurang di siklus I akan diperbaiki pada siklus ini.

Sumber Data

Sumber data yang digunakan adalah diambil dari hasil observasi setelah tindakan dilaksanakan.

Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah data kualitas

Teknik Pengumpulan dan Analisis Data

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan dokumentasi. Dalam hal ini menggunakan observasi nonpartisipan. Observasi nonpartisipan adalah observasi dimana peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat. Sedangkan dokumentasi berupa pengambilan foto aktivitas belajar siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung. Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI berupa lembar observasi dan dokumentasi aktivitas belajar siswa.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penilitian ini adalah teknik statistik deskriptif. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data hasil observasi aktivitas belajar siswa. Dengan kata lain, data hasil observasi aktivitas belajar siswa dapat disimpulkan dengan memperhatikan ketentuan penilaian pilihan terbanyak.

JADWAL PENELITIAN

No.

Kegiatan

Bulan ke

1

2

3

4

5

6

1.

2.

3.

4.

 

Persiapan

  1. Perizinan
  2. Pembuatan instrumen

Pelaksanaan penelitian

Pengolahan data

Penyusunan skripsi

Seminar hasil

Ujian skripsi

x

x

x

x

x

x

x

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi, Drs. Dan Drs. Widodo Supriyono. Psikologi Belajar edisi revisi. Solo : Rineka Cipta

Arikunto, S, Suhardjono dan Supardi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. PT Bumi Aksara, Jakarta.

Dimyati, Drs. Dan Drs. Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Solo : Rineka Cipta

Hamalik, Oemar, Prof. Dr. 2009. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara

,. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara

Kunandar. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. PT RajaGrafindo Persada, Jakarta

Rusman, M.pd, Dr. 2010. Model-Model Pembelajaran mengembangkan Profesionalisme Guru.  Jakarta : Rajawali Pers

Slavin, R.E. 2008. Cooperative Learning: Teori, Riset, and Praktik. Terjemahan Nurulita. Nusa Media, Bandung.

Slameto, Drs. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta

Suprijono, Agus. 2010. Cooperative Learning. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Syah, Muhibbin, M.Ed. 2004. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung : Rosda

Tim Dosen PMIPA. 2007. Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah Edisi IV. Jurusan        Pendidikan MIPA-FKIP-UNLAM, Banjarmasin.

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif.  Jakarta : Kencana

Widdiharto, Rachmadi Dan Yudom Rudianto. 2010. Penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas Dalam Pembelajaran Matematika di SMP. Yogyakarta : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika

Widyantini, M.si, Dra. 2006. Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kooperatif. Yogyakarta : Departemen Pendidikan Nasional Pusat Pengembangan dan Penataran Guru Matematika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s