Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS)

Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi, metode atau prosedur. Model pembelajaran dimaksudkan sebagai pola interaksi siswa dengan guru di dalam kelas yang menyangkut strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas (Tim MKPBM, 2001). Beberapa model pembelajaran menurut Suprijono (2009) antara lain model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran langsung dan model pembelajaran berbasis masalah. Salah satu model pembelajaran alternatif yang dapat membantu siswa mengkonstruksikan pengalaman belajarnya sendiri adalah model pembelajaran kooperatif.

Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang heterogen dan dikelompokkan dengan tingkat kemampuan yang berbeda. Model pembelajaran kooperatif ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Ibrahim, dkk., 2000) :

(1)     siswa belajar dalam kelompok, secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.

(2)     kelompok siswa terdiri dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.

(3)     jika di dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan dalam setiap kelompok terdiri dari ras, suku, budaya, dan jenis kelamin yang berbeda pula.

(4)     penghargaan lebih diutamakan pada kerjasama kelompok daripada perorangan.

Isjoni (Stahl, 2009) menyatakan dengan melaksanakan model pembelajaran kooperatif, siswa memungkinkan dapat meraih keberhasilan dalam belajar, disamping itu juga bisa melatih siswa untuk memiliki keterampilan, baik keterampilan berpikir (thinking skill) maupun keterampilan sosial (social skill), seperti keterampilan untuk mengemukakan pendapat, aktif bertanya, menerima saran dam masukan dari orang lain, bekerja sama, rasa setia kawan, dan mengurangi perilaku yang menyimpang di kelas. Menurut Anita Lie (2008) model pembelajaran kooperatif akan dapat menumbuhkan pembelajaran efektif yaitu pembelajaran yang bercirikan saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, interaksi promotif, komunikasi antar anggota, pemprosesan kelompok.

Menurut Suprijono (2009) model pembelajaran kooperatif memiliki enam langkah utama yang dirangkum pada Tabel 1 berikut:

 

Tabel 1 Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif ada 6 (enam) fase

FASE-FASE

PERILAKU GURU

Fase 1 : menyampaikan tujuan dan mempersiapkan anak didik Menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa siap belajar
Fase 2 : menyajikan informasi Mempresentasikan informasi kepada siswa secara verbal
Fase 3 : mengorganisir peserta didik ke dalam tim-tim belajar Memberikan penjelasan kepada siswa tentang tata cara pembentukan tim belajar dan membantu kelompok melakukan transisi yang efisien
Fase 4 : membantu kerja tim dan belajar Membantu tim-tim belajar selama siswa mengerjakan tugasnya
Fase 5 : mengevaluasi Menguji pengetahuan siswa mengenai berbagai materi pembelajaran atau kelompok-kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase 6 : memberikan pengakuan atau penghargaan Mempersiapkan cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok

 

Suyatno (2009) menyatakan model pembelajaran kooperatif terdiri dari beberapa tipe, diantaranya Student Teams Achievement Division (STAD), Numbered Heads Together (NHT), Jigsaw, Think Pairs Share (TPS), Teams Games Turnament (TGT), Group Investigation (GI), Teams Assisted Individualy (TAI), dan Two Stay Two Stray (TSTS).

Model pembelajaran kooperatif tipe TSTS pertama kali dikembangkan oleh Spencer Kagan pada tahu 1992. TSTS berasal dari bahasa Inggris yang berarti “dua tinggal dua tamu”. Teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk membagikan hasil informasi dengan kelompok lain (Isjoni, 2009).

Menurut Suyatno (2009) model pembelajaran kooperatif tipe TSTS adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. Sintaknya adalah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap dikelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain, kerja kelompok, kembali ke kelompok asal, kerja kelompok, dan laporan kelompok.

Menurut Suprijono (2009) model pembelajaran kooperatif tipe TSTS atau dua tinggal dua tamu diawali dengan pembagian kelompok. Setelah kelompok terbentuk guru memberikan tugas berupa permasalahan-permasalahan yang harus mereka diskusikan jawabannya. Setelah diskusi intrakelompok selesai, dua orang dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lain. Anggota kelompok yang tidak mendapat tugas sebagai duta (tamu) mempunyai kewajiban menerima tamu dari suatu kelompok. Tugas mereka adalah menyajikan hasil kerja kelompoknya kepada tamu tersebut. Dua orang yang bertugas sebagai tamu diwajibkan bertamu kepada semua kelompok. Jika mereka telah selesai melaksanakan tugasnya, mereka kembali ke kelompoknya masing-masing. Setelah kembali ke kelompok asal, baik siswa yang bertugas bertamu maupun mereka yang bertugas menerima tamu mencocokkan dan membahas hasil kerja yang telah mereka tunaikan.

Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TSTS sebagai berikut :

(1)     guru menyampaikan materi pelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai.

(2)     guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang siswa secara heterogen dengan kemampuan berbeda-beda baik tingkat kemampuan (tinggi, sedang, dan rendah) maupun jenis kelamin.

(3)     guru memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) atau tugas untuk dibahas dalam kelompok.

(4)     siswa 2-3 orang dari tiap kelompok berkunjung ke kelompok lain untuk mencatat hasil pembahasan LKS atau tugas dari kelompok lain, dan sisa kelompok tetap dikelompoknya untuk menerima siswa yang bertamu ke kelompoknya.

(5)     siswa yang bertamu kembali ke kelompoknya masing-masing dan menyampaikan hasil kunjungannya kepada teman yang tetap berada dalam kelompok. Hasil kunjungan dibahas bersama dan dicatat.

(6)     hasil diskusi kelompok dikumpulkan dan salah satu kelompok mempresentasikan jawaban mereka, kelompok lain memberikan tanggapan.

(7)     guru memberikan klarifikasi terhadap jawaban yang benar.

(8)     guru membimbing siswa merangkum pelajaran.

(9)     guru memberikan penghargaan secara kelompok.

Menurut Fatirul (2008) kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS yaitu dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan semua tingkat usia siswa. Model ini tidak hanya bekerja sama dengan anggota sekelompok tetapi bisa juga bekerja sama dengan kelompok lain yang memungkinkan terciptanya keakraban sesama teman dalam suatu kelas dan lebih berorientasi pada keaktifan siswa. Sedangkan kekurangan dari model pembelajaran kooperatif tipe TSTS ini yaitu jumlah siswa dalam satu kelas tidak boleh ganjil harus berkelipatan empat dan peralihan dari seluruh kelas ke kelompok kecil dan kunjungan dari 2 orang anggota kelompok yang satu ke kelompok lain membutuhkan perhatian khusus dalam pengelolaan kelas serta dapat menyita waktu pengajaran yang berharga. Selain itu, guru juga harus membutuhkan banyak persiapan.

Secara umum desain model pembelajaran kooperatif tipe TSTS dapat dilihat pada Gambar 1 yang merupakan modifikasi dari desain pembelajaran dengan strategi Tink-Talk-Write (Yamin & Ansari, 2008).

RPP kooperatif two stay two stray (TSTS)

15 thoughts on “Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s