Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games Tournament (TGT)

TGT pertama kali dicetuskan oleh Robert Slavin dan David De Vries pada tahun 1978. Model pembelajaran TGT adalah salah satu model pembelajaran yang melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam model pembelajaran kooperatif TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar (Inge Ratna Dwi Alitalya, 2010).

Menurut Slavin (2010) pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari 5 langkah tahapan yaitu.

1)    Tahap penyajian kelas (class precentation).

2)    Belajar dalam kelompok (teams).

3)    Permainan (geams).

4)    Pertandingan (tournament).

5)    Perhargaan kelompok ( team recognition).

Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Slavin, maka model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki ciri-ciri sebagai  berikut.

1)             Siswa Bekerja Dalam Kelompok-kelompok Kecil

Siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok belajar yang    beranggotakan 5 sampai 6 orang yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, dan suku atau ras yang berbeda. Dengan adanya heterogenitas anggota kelompok, diharapkan dapat memotifasi siswa untuk saling membantu antar siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan kurang dalam menguasai materi pelajaran. Hal ini akan menyebabkan tumbuhnya rasa kesadaran pada diri siswa bahwa belajar secara kooperatif sangat menyenangkan.

2)             Games Tournament

Dalam permainan ini setiap siswa yang bersaing merupakan wakil dari kelompoknya. Siswa yang mewakili kelompoknya, masing-masing ditempatkan dalam meja-meja turnamen. Tiap meja turnamen ditempati 5 sampai 6 orang peserta, dan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Dalam setiap meja turnamen diusahakan setiap peserta homogen. Permainan ini diawali dengan memberitahukan aturan permainan. Setelah itu permainan dimulai dengan membagikan kartu-kartu soal untuk bermain (kartu soal dan kunci ditaruh  terbalik di atas meja sehingga soal dan kunci tidak terbaca).

Permainan pada tiap meja turnamen dilakukan dengan aturan sebagai berikut. Pertama, setiap pemain dalam tiap meja menentukan dulu pembaca soal dan pemain yang pertama dengan cara undian. Kemudian pemain yang menang undian mengambil kartu undian yang berisi nomor soal dan diberikan kepada pembaca soal. Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan nomor undian yang diambil oleh pemain. Selanjutnya soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan penantang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam soal. Setelah waktu untuk mengerjakan soal selesai, maka pemain akan membacakan hasil pekerjaannya yang akan ditangapi oleh penantang searah jarum jam. Setelah itu pembaca soal akan membuka kunci jawaban dan skor hanya diberikan kepada pemain yang menjawab benar atau penantang yang pertama kali memberikan jawaban benar.

Jika semua pemain menjawab salah maka kartu dibiarkan saja. Permainan dilanjutkan pada kartu soal berikutnya sampai semua kartu soal habis dibacakan, dimana posisi pemain diputar searah jarum jam agar setiap  peserta dalam satu meja turnamen dapat berperan sebagai pembaca soal, pemain, dan penantang. Disini permainan dapat dilakukan berkali-kali dengan syarat bahwa setiap peserta harus mempunyai kesempatan yang sama sebagai pemain, penantang, dan pembaca soal.

Dalam permainan ini pembaca soal hanya bertugas untuk membaca soal dan membuka kunci jawaban, tidak boleh ikut menjawab atau memberikan jawaban pada peserta lain. Setelah semua kartu selesai terjawab, setiap pemain dalam satu meja menghitung jumlah kartu yang diperoleh dan menentukan berapa poin yang diperoleh. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh kepada ketua kelompok. Ketua kelompok memasukkan poin yang diperoleh anggota kelompoknya pada tabel yang telah disediakan, kemudian menentukan kriteria penghargaan yang diterima oleh kelompoknya.

3)             Penghargaan Kelompok

Langkah pertama sebelum memberikan penghargaan kelompok adalah menghitung rerata skor kelompok. Untuk memilih rerata skor kelompok dilakukan dengan cara menjumlahkan skor yang diperoleh oleh masing-masing anggota kelompok dibagi dengan banyaknya anggota kelompok. Pemberian penghargaan didasarkan atas rata-rata poin yang didapat oleh kelompok tersebut.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT melalui beberapa tahapan yang perlu ditempuh, yaitu.

1)             Mengajar (teach)

Mempersentasekan atau menyajikan materi, menyampaikan tujuan, tugas, atau kegiatan yang harus dilakukan siswa, dan memberikan motivasi.

2)             Belajar Kelompok (team study)

Siswa bekerja dalam kelompok yang terdiri atas 5 sampai 6 orang dengan kemampuan akademik, jenis kelamin, dan ras/suku yang berbeda. Setelah guru menginformasikan materi, dan tujuan pembelajaran, kelompok berdiskusi dengen menggunakan LKS. Dalam kelompok terjadi diskusi untuk memecahkan masalah bersama, saling memberikan jawaban dan mengoreksi jika ada anggota kelompok yang salah dalam menjawab.

3)             Permainan (games tournament)

Permainan diikuti oleh anggota kelompok dari masing-masing kelompok yang berbeda. Tujuan dari permainan ini adalah untuk mengetahui apakah semua anggota kelompok telah menguasai materi, dimana pertanyaan-pertanyaan yang diberikan berhubungan dengan materi yang telah didiskusikan dalam kegiatan kelompok.

4)             Penghargaan kelompok (team recognition)

Pemberian penghargaan (rewards) berdasarkan pada rerata poin yang diperoleh oleh kelompok dari permainan

De Vries dan Slavin mengemukakan beberapa manfaat pembelajaran kooperatif model TGT yaitu: mudah untuk diterapkan karena tidak memerlukan ruangan dan peralatan khusus, sebagai alternatife untuk menciptakan kondisi yang variatif dalam kegiatan belajar mengajar, dapat membantu guru untuk menyelesaikan masalah dalam pembelajaran (rendahnya minat belajar siswa, rendahnya aktivitas proses belajar siswa ataupun rendahnya hasil belajar siswa), dan melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, juga melibatkan peran siswa sebagai “tutor sebaya”.

RPP Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games Tournament (TGT

Proposal Skripsi

MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA  DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) DI KELAS VII C SMP NEGERI 9 BANJARBARU TAHUN PELAJARAN 2010/2011

LATAR BELAKANG

Pembelajaran hakikatnya adalah usaha sadar dari seorang guru dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan untuk membelajarkan  siswanya dan mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya. Tujuan pembelajaran merupakan sesuatu yang ingin dicapai setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar. Dari waktu ke waktu tujuan pembelajaran perlu disempurnakan sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan perkembangan siswa. Oleh karena itu, guru sebagai pengelola pembelajaran diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang berkualitas.

Pembelajaran yang berkualitas adalah pembelajaran yang melibatkan seluruh komponen utama proses belajar mengajar, yaitu guru, siswa dan interaksi antara keduanya, serta ditunjang oleh berbagai unsur-unsur pembelajaran, meliputi tujuan pembelajaran, pemilihan materi pelajaran, sarana prasarana yang menunjang, situasi atau kondisi belajar yang kondusif, lingkungan belajar yang mendukung kegiatan belajar mengajar (KBM), serta evaluasi yang sesuai dengan kurikulum. Prestasi belajar dapat dioptimalkan merlalui peningkatan kualitas pembelajaran.

Pembelajaran matematika pada dasarnya bertujuan untuk membantu melatih pola pikir siswa agar dapat memecahkan masalah dengan kritis, logis, cermat dan tepat. Disamping itu agar siswa terbentuk kepribadiannya serta terampil menggunakan matematika dalam kehidupan sehari – hari. Namun banyak siswa yang menganggap bahwa matematika itu pelajaran yang menakutkan sehingga siswa tidak berpartisipasi aktif dalam pembelajaran secara optimal bahkan cenderung pasif. Oleh karena itu dalam pembelajaran matematika membutuhkan metode yang tepat. Kesalahan menggunakan metode dapat menghambat tercapainya tujuan pembelajaran matematika yang diinginkan. Dampak yang lain adalah terganggunya kestabilan psikologi peserta didik. Sehingga diperlukan pemilihan suatu strategi yang dapat melibatkan atau mengaktifkan siswa dalam belajar.

Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru matematika kelas VII C SMP Negeri 9 banjarbaru, aktivitas belajar siswa masih kurang optimal dalam pembelajaran, karena masih terdapat beberapa masalah sebagai berikut:

  1. Metode mengajar yang diterapkan guru masih konvensional, sehingga belum bisa mendorong siswa berani mengkomunikasikan apa yang ada dipikiran, bahkan membuat siswa pasif dan mempertebal rasa takut siswa.
  2. Ketika guru mengajukan pertanyaan, siswa kurang tanggap terhadap pertanyaan guru. Siswa tampak diam dan tidak bersemangat untuk menjawab pertanyaan. Hanya nampak beberapa siswa yang antusias menjawab pertanyaan. Saat guru memberi kesempatan bertanya, jarang sekali ada siswa yang mengajukan pertanyaan.
  3. Sebagian besar siswa mengalami kendala pada pelajaran Matematika karena kurangnya motivasi. Rendahnya motivasi belajar ini disebabkan karena kesulitan dalam memahami materi yang disampaikan dan munculnya gejala verbalisme, seperti kesulitan menghapal rumus.

Untuk mengantisipasi masalah tersebut agar tidak berkelanjutan maka perlu dicarikan metode pembelajaran yang tepat sehingga dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran matematika. Para guru terus berusaha menyusun dan menerapkan berbagai model dan variasi agar siswa tertarik dan bersemangat dalam belajar matematika.

Salah satu metode pembelajaran untuk mengantisipasi kurangnya aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran matematika adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI. Pemilihan pembelajaran kooperatif TAI dalam kegiatan belajar mengajar dimaksudkan untuk :

  1. Membatasi keterlibatan guru dalam pemeriksaan dan pengelolaan rutin.
  2. Belajar melakukan kerja sama dengan kelompok belajar.
  3. Meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar dalam sebuah tim.
  4. Meningkatkan partisipasi siswa untuk dapat menguasai materi dengan cara mengelola kemampuan individualnya dalam sebuah tim.
  5. Memotivasi siswa untuk mempelajari materi yang diberikan dengan cepat dan akurat, dan tidak akan bisa berbuat curang atau menyelesaikan dengan jalan pintas.

Penerapan pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization (TAI) diharapkan akan mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul:

”MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) DI KELAS VII C  SMP NEGERI 9 BANJARBARU TAHUN PELAJARAN 2010/2011”

PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut.

“Apakah melalui penerapan model pembelajaran Cooperative Learning tipe TAI dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran matematika di kelas VII C  SMP Negeri 9 Banjarbaru?”

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan merupakan arah dari suatu kegiatan agar tercapai hasil seperti yang diharapkan. Maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif  tipe TAI (Team Assisted Individualization) dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa kelas VII C SMP Negeri 9 Banjarbaru

MANFAAT PENELITIAN

Hasil dari penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi

  1. Peneliti :
  2. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pembelajaran kooperatif sebagai wahana untuk mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan.
  3. Dapat memberikan pengalaman yang berharga dan motivasi bagi peneliti untuk memilih strategi pembelajaran yang kelak diterapkan di sekolah.
    1. Guru, sebagai bahan pemilihan dan pertimbangan dalam memilih model pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar. Sebagai salah satu masukan pengalaman bagi guru untuk menerapkan strategi pembelajaran kooperatif.
    2. Siswa, sebagai upaya menumbuhkan motivasi dan semangat belajar siswa serta melatih siswa untuk saling bekerja sama dengan siswa lain.
    3. Sekolah, sebagai bahan masukan untuk meningkatkan kualitas pengajaran matematika di sekolah

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian belajar dan Faktor – faktor yang Mempengaruhinya

Belajar merupakan proses dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup tidak lain adalah hasil dari belajar. (Abu Ahmadi & Widodo Supriyono, 2004)

Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar.(Dimyati & Mudjiono)

Belajar secara umum diartikan sebagai perubahan pada individu yang terjadi melalui pengalaman, dan bukan karena pertumbuhan atau perkembangan tubuhnya atau karakteristik seseorang sejak lahir. (Trianto, 2010)

Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu sebagai hasil dari pengalamannya dalam berinteraksi dengan lingkungan. Belajar bukan hanya sekedar menghapal, melainkan suatu proses mental yang terjadi dalam diri seseorang. (Rusman, 2010).

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. (Slameto, 2003)

Belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan. (Oemar Hamalik, 2008)

Belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. (Muhibbin Syah, 2004)

Menurut Slameto (2003) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

  1. Faktor intern
  2. Faktor Jasmaniah, yaitu kesehatan dan cacat tubuh
  3. Faktor Psikologis, yaitu intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan
  4. Faktor kelelahan, yaitu kelelahan jasmani dan rohani
    1. Faktor Ekstern
    2. Faktor keluarga, yaitu cara orang tua mendidik, relasi antaranggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan.
    3. Faktor sekolah, yaitu metode mengajar, kurikulum, relasi guru dan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah
    4. Faktor masyarakat, yaitu kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat.

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh murid sebagai anak didik dalam kegiatan pembelajaran.

Aktivitas Belajar

Dalam kegiatan pembelajaran, aktivitas siswa sebagai subjek didik sangat diperlukan sebab kegiatan yang dilakukan oleh siswa bukan sesuatu yang dilakukan terhadap siswa. Dengan demikian dalam suatu pembelajaran, aktivitas belajar merupakan tanggung jawab siswa sedangkan guru berperan sebagai fasilitator yang membantu keaktifan siswa mencapai tujuan belajarnya. Hal tersebut berarti bahwa dalam pembelajaran diperlukan keterlibatan siswa dan guru secara aktif baik fisik maupun mental. (Fandria, 2008)

Aktivitas siswa adalah keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian dan aktivitas dalam kegiatan pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Peningkatan aktivitas siswa, yaitu meningkatnya jumlah siswa yang aktif belajar, meningkatnya jumlah siswa yang bertanya dan menjawab, meningkatnya jumlah siswa yang saling berinteraksi membahas materi pembelajaran. indikator aktivitas siswa dapat dilihat dari: pertama, mayoritas siswa beraktivitas dalam pembelajaran; kedua, aktivitas pembelajaran didominasi oleh kegiatan siswa; ketiga, mayoritas siswa mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru dalam LKS. (Kunandar, 2008)

Karena aktivitas belajar itu banyak sekali macamnya maka para ahli mengadakan klasifikasi atas macam-macam aktivitas tersebut. Beberapa di antaranya ialah: 1) Paul D.Dierich membagi kegiatan belajar dalam 8 kelompok, ialah: kegiatan-kegiatan visual, lisan, mendengarkan, menulis,  menggambar, metrik, mental, dan emosional. 2) Getrude M. Whipple membagi  kegiatan-kegiatan murid sebagai berikut: bekerja dengan alat-alat visual, ekskursi dan trip, mempelajari masalah-masalah, mengapresiasi literatur, ilustrasi dan konstruksi, bekerja menyajikan informasi, cek dan tes. (Oemar Hamalik, 2009)

Berikut ini dikemukakan beberapa contoh aktivitas belajar dalam belajar situasi. Mendengarkan, Memandang, Meraba, membau, dan mencicipi/mengecap, Menulis atau mencatat, Membaca, membuat ikhtisar atau ringkasan dan menggarisbawahi, mengamati tabel-tabel, diagram, dan bagan, menyusun paper atau kertas kerja, mengingat, berpikir, latihan atau praktek. (Abu Ahmadi & Widodo Supriyono, 2004)

Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik. Dalam keadaan di mana anak didik/siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan kesulitan belajar. Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor inteligensi yang rendah akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor lain, salah satunya model pembelajaran yang dipilih oleh guru.

Pengertian Model Pembelajaran

Model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Menurut Arends, model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.(Agus Suprijono, 2010)

Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya. (Rusman, 2010)

Menurut Trianto (2010 dalam Kardi dan Nur, 2000: 9) istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode atau prosedur. Model pengajaran mempunyai empat cirri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut ialah: (1) rasional teoritis logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya; (2) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai); (3) tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil; dan (4) lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

Model pembelajaran yang banyak digunakan dan menjadi perhatian serta dianjurkan oleh para ahli pendidikan adalah model pembelajaran kooperatif.

Model Pembelajaran kooperatif

Pembelajaran kooperatif bernaung dalam teori konstruktivis. Pembelajaran ini muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif. (Trianto, 2010)

Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekadar belajar dalam kelompok. Ada unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif. Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar dari guru kepada siswa. Siswa dapat saling membelajarkan sesama siswa lainnya. Pembelajaran oleh rekan sebaya lebih efektif daripada pembelajaran oleh guru. Mengapa pembelajaran kooperatif perlu? Dalam situasi belajar pun sering terlihat sifat individualistis siswa. Siswa cenderung berkompetensi secara individual, bersikap tertutup terhadap teman, kurang memberi perhatian ke teman sekelas, bergaul hanya dengan orang tertentu, ingin menang sendiri, dan sebagainya. Jika keadaan ini dibiarkan tidak mustahil akan dihasilkan warga negara yang egois, inklusif, introfert, kurang bergaul dalam masyarakat, acuh tak acuh dengan tetangga dan lingkungan, kurang menghargai orang lain, serta tidak mau menerima kelebihan dan kelemahan orang lain. Gejala seperti ini kiranya mulai terlihat pada masyarakat kita, sedikit-sedikit demonstrasi, main keroyokan, saling sikut, dan mudah terprovokasi. (Rusman, 2010)

Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus ditetapkan. Lima unsur tersebut adalah: saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, interaksi promotif, komunikasi antaranggota, dan pemrosesan kelompok. (Agus Suprijono, 2010)

Sintak model pembelajaran kooperatif terdiri dari 6 (enam) fase.

FASE-FASE

PERILAKU GURU

Fase 1 : Present Goal and setMenyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik menjelaskan tujuan pembelajaran danmempersiapkan peserta didik siap belajar
Fase 2 : Present informationMenyajikan informasi Mempersentasikan informasi kepadaPeserta didik secara verbal
Fase 3 : Organize students into learningTeams

Mengorganisir peserta didik ke dalam tim-tim belajar

Memberikan penjelasan kepada pesertaDidik tentang cara pembentukan tim belajar dan membantu kelompok melakukan transisi yang efisien
Fase 4 : Assist team work and studyMembantu kerja tim dan belajar Membantu tim-tim belajar selama peserta didik mengerjakan tugasnya
Fase 5 : Test on the materialsmengevaluasi Menguji pengetahuan peserta didik mengenai berbagai materi pembelajaran atau kelompok-kelompok mempersentasikan hasil kerjanya
Fase 6 : Provide recognitionMemberikan pengakuan atau penghargaan Mempersiapkan cara untuk mengakuiUsaha dan prestasi individu maupun kelompo

Pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assited Individualization)

Pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin. Tipe ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena itu kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah, ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.

Model pembelajaran kooperatif tipe TAI merupakan model pembelajaran yang membentuk kelompok kecil yang heterogen dengan latar belakang cara berfikir yang berbeda untuk saling membantu terhadap siswa lain yang membutuhkan bantuan (Suyitno,2002:9).  Dalam model ini, diterapkan bimbingan antar teman yaitu siswa yang pandai bertanggung jawab terhadap siswa yang lemah. Disamping itu dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kelompok kecil. Siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya, sedangkan siswa yang lemah dapat terbantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Unsur–unsur program dalam model pembelajaran tipe TAI menurut     Slavin adalah sebagai berikut.

(a)    Kelompok

Para siswa dalam TAI dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang   beranggotakan  4 sampai 5 orang, seperti pada STAD dan TGT.

(b)   Tes Penempatan

Para siswa diberikan tes pra-program dalam bidang operasi matematika pada permulaan pelaksanaan program. Mereka ditempatkan pada tingkat yang sesuai dalam program individual berdasarkan kinerja mereka dalam tes ini.

(c)    Materi-materi Kurikulum

Materi-materi kurikulum ini diadaptasi dari Slavin (2009) meliputi halaman panduan (LKK) yang berisi konsep-konsep materi beserta contoh soal dan pembahasannya, soal-soal latihan kemampuan, soal-soal tes formatif A dan tes formatif B, soal-soal tes unit, serta kunci jawaban untuk soal-soal latihan kemampuan, soal-soal tes formatif dan soal-soal tes unit.

(d)   Belajar Kelompok

Belajar kelompok ini adalah serangkaian proses belajar kelompok yang dijabarkan pada langkah-langkah pembelajaran.

(e)    Skor Kelompok dan Penghargaan Kelompok

Pada tiap akhir minggu, guru menghitung skor kelompok. Skor ini didasarkan pada jumlah rata-rata unit yang bisa dicakupi oleh tiap anggota kelompok dan jumlah rata-rata tes unit yang berhasil diselesaikan dengan akurat. Kriterianya dibangun dari kinerja kelompok. Kriteria yang tinggi ditetapkan bagi sebuah kelompok untuk menjadi kelompok super, kriteria sedang untuk menjadi kelompok sangat baik, dan kriteria minimum untuk menjadi kelompok baik. Kelompok-kelompok yang memenuhi kriteria sebagai kelompok super atau kelompok sangat baik menerima sertifikat yang menarik.

(f)    Kelompok Pengajaran.

Guru memberikan bantuan pengajaran selama sekitar sepuluh atau lima belas menit kepada anggota kelompok. Tujuan dari sesi ini adalah untuk mengenalkan konsep-konsep utama kepada para siswa. Ini dirancang untuk membantu para siswa memahami hubungan antara pelajaran matematika yang mereka kerjakan dengan soal-soal yang ditemui dan juga merupakan soal-soal dalam kehidupan nyata.

(g)   Tes Fakta

Pelaksanaan tes-tes kecil berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.

(h)   Unit Seluruh Kelas

Pada akhir tiap tiga minggu, guru menghentikan program individual dan menghabiskan waktu satu minggu untuk mengajari seluruh kelas.

Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TAI yang diadaptasi dari Slavin yaitu :

(1)         siswa membentuk kelompok berdasarkan pembagian kelompok heterogen yang telah ditetapkan oleh guru. Penetapan ini merujuk pada tes penempatan,

(2)         guru menunjuk dua atau tiga orang dalam masing-masing kelompok yang bertugas sebagai pemeriksa jawaban,

(3)         para siswa membaca halaman panduan (LKK) mereka dan meminta teman satu kelompok atau guru untuk membantu bila diperlukan. Selanjutnya mereka akan memulai latihan kemampuan,

(4)         masing-masing siswa mengerjakan empat soal latihan kemudian lembar jawabannya diperiksa oleh pasangan masing-masing dalam kelompoknya. Jika jawaban keempat soal tersebut benar, maka siswa tersebut dapat melanjutkan mengerjakan tes formatif A. Jika ada jawaban yang salah, siswa harus mencoba mengerjakan kembali keempat soal tersebut sampai siswa bersangkutan dapat menyelesaikan keempat soal tersebut dengan benar. Siswa yang pada tahap ini mengalami kesulitan, didorong untuk meminta bantuan kepada guru,

(5)         setelah siswa dapat menjawab keempat soal latihan dengan benar, ia dapat mengikuti tes formatif A yang soalnya menyerupai soal latihan. Pada saat mengerjakan tes formatif, siswa bekerja sendiri sampai selesai. Seorang teman sekelompok akan memeriksa lembar jawabannya dan menghitung skor tes. Apabila siswa tersebut dapat menjawab 80% soal atau lebih dengan benar, maka pemeriksa akan menandatangani hasil tes itu untuk menunjukkan bahwa siswa tersebut telah dinyatakan sah oleh teman satu kelompoknya untuk mengikuti tes unit. Bila siswa tersebut tidak bisa mengerjakan 80% soal dengan benar, guru akan dipanggil untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa tersebut. Guru mungkin akan meminta si siswa untuk kembali mengerjakan soal-soal latihan kemampuan kemudian mengerjakan tes   formatif B yang setara dengan tes formatif A, atau jika tidak, siswa tersebut boleh terus melanjutkan ke tes unit. Tak ada siswa yang boleh mengerjakan tes unit sampai dia mengerjakan tes formatif dan pekerjaannya diperiksa oleh temannya,

(6)         tes formatif para siswa ditandatangani oleh siswa pemeriksa yang berasal dari kelompok lain supaya bisa mendapatkan tes unit. Siswa tersebut selanjutnya menyelesaikan tes unitnya, dan siswa pemeriksa akan menghitung skornya.

Model pembelajaran koperatif TAI memiliki kekurangan dan kelebihan. Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif TAI, Slavin (1995:101) menyatakan bahwa belajar kooperatif model TAI mempunyai kelebihan sebagai berikut:

  1. Guru terlibat minimal dalam pengaturan dan pengecekan rutin
  2. Guru akan menggunakan waktunya paling sedikit dalam mengajar kelompok kecil
  3. Pelaksanaan program sederhana
  4. Para siswa dapat mengecek pekerjaan satu sama lain
  5. Mengurangi perilaku yang mengganggu
  6. Mengurangi konflik antar pribadi
  7. Program ini sangat membantu siswa yang lemah
  8. Meningkatkan motivasi belajar pada diri siswa
  9. Meningkatkan hasil belajar

Selain memiliki kelebihan model pembelajaran kooperatif TAI juga memiliki kekurangan. Disebutkan oleh Derc (1991) dalam Anwar (2003) bahwa:

  1. Dibutuhkan waktu yang lama untuk membuat dan mengembangkan perangkat pembelajaran, dan
  2. Jumlah siswa yang besar dalam kelas, maka guru akan mengalami kesulitan dalam memberikan bimbingan kepada siswanya.

HIPOTESIS TINDAKAN

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe TAI dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa kelas VII C SMP Negeri 9 Banjarbaru tahun pelajaran 2010/2011.

METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru atau bekerja sama dengan orang lain (kolaborasi) yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu  proses pembelajaran dikelasnya (Kunandar, 2008).

Subjek dan Objek penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII C SMP Negeri 9 Banjarbaru tahun pelajaran 2010/2011 sebanyak 34 orang. Objek penelitian adalah aktivitas belajar matematika siswa kelas VII C SMP Negeri 9 Banjarbaru tahun pelajaran 2010/2011 pada pokok bahasan segitiga, persegi dan persegi panjang

Tempat dan Waktu penelitian

Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2010/2011 di kelas VII C SMP Negeri 9 Banjarbaru yang beralamat di Jalan Karang Anyar No. 1 Kelurahan Lokatabat Utara, Banjarbaru,  Provinsi Kalimantan Selatan. Penelitian ini direncanakan berlangsung pada minggu pertama sampai dengan minggu keempat bulan April 20111 sebanyak 2 siklus dengan jumlah keseluruhan pertemuan 6 kali. Tiap pertemuan berlangsung selama 80 menit.

Alasan peneliti melakukan penelitian di SMP Negeri 9 Banjarbaru dengan pertimbangan sebagai berikut:

SMP Negeri 9 Banjarbaru memberikan ijin kepada peneliti untuk melakukan penelitian

  1. Jarak antara sekolah dengan rumah peneliti tidak jauh sehingga dapat menghemat biaya transportasi
  2. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di SMP Negeri 9 Banjarbaru secara umum masih menggunakan model pembelajaran konvensional
  3. Aktivitas belajar matematika kelas VII C yang belum optimal sehingga perlu dilakukan penelitian dengan penerapan model Pembelajaran Kooperatif TAI dengan harapan aktivitas belajar siswa  dapat meningkat.

Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri atas dua siklus dengan 6 kali pertemuan yaitu siklus pertama dilaksanakan dengan 3 kali pertemuan (6 jam pelajaran) dan siklus kedua dilaksanakan dengan 3 kali pertemuan (6 jam pelajaran). Penelitian ini dilaksanakan berkolaborasi dengan guru mata pelajaran matematika kelas VII C yaitu Ibu Gusti Nuriyati S.Pd sebagai pelaksana tindakan dan peneliti sebagai pengamat atau observer aktivitas belajar siswa untuk setiap kelompok siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran. Peneliti juga sebagai perencana tindakan artinya sebagai pembuat perangkat pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku, pengumpul data, penganalisis data, perefleksi data hasil observasi dan sekaligus pembuat laporan hasil penelitian.

Rencana Tindakan

Siklus 1

Rencana tindakan pada siklus I adalah sebagai berikut :

Perencanaan Tindakan

Kegiatan-kegiatan pada tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut :

1)      Membuat skenario pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TAI.

2)      Menyusun lembar observasi aktivitas siswa untuk melihat bagaimana kondisi proses kegiatan belajar mengajar di kelas diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe TAI.

3)      Mendesain instrument-instrumen evaluasi yang berupa soal tes tertulis

Pelaksanaan Tindakan

Pada tahap pelaksanaan tindakan, seluruh rencana pembelajaran seperti RPP, LKS atau lembar tugas dan seluruh media atau alat bantu pembelajaran direalisasikan dalam situasi sebenarnya di dalam kelas.

  1. Observasi

Pada tahap ini dilakukan observasi dan pengamatan untuk merekam segala peristiwa dan kegiatan selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Observasi dilakukan terhadap keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi aktivitas belajar siswa.

  1. Refleksi

Pada tahap refleksi ini dilakukan pengolahan data yang diperoleh pada tahap observasi. Ditahap ini pula, diadakan pengkajian data yang telah dihasilkan atau yang belum tuntas pada pelaksanaan tindakan. Hasil observasi akan dijadikan bahan pertimbangan untuk memasuki siklus berikutnya.

Siklus II

Siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I dengan memperhatikan hasil observasi dari pengamat (observer) serta hasil diskusi dengan guru selaku pelaksana tindakan. Hal-hal yang dianggap masih kurang di siklus I akan diperbaiki pada siklus ini.

Sumber Data

Sumber data yang digunakan adalah diambil dari hasil observasi setelah tindakan dilaksanakan.

Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah data kualitas

Teknik Pengumpulan dan Analisis Data

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan dokumentasi. Dalam hal ini menggunakan observasi nonpartisipan. Observasi nonpartisipan adalah observasi dimana peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat. Sedangkan dokumentasi berupa pengambilan foto aktivitas belajar siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung. Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI berupa lembar observasi dan dokumentasi aktivitas belajar siswa.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penilitian ini adalah teknik statistik deskriptif. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data hasil observasi aktivitas belajar siswa. Dengan kata lain, data hasil observasi aktivitas belajar siswa dapat disimpulkan dengan memperhatikan ketentuan penilaian pilihan terbanyak.

JADWAL PENELITIAN

No.

Kegiatan

Bulan ke

1

2

3

4

5

6

1.

2.

3.

4.

 

Persiapan

  1. Perizinan
  2. Pembuatan instrumen

Pelaksanaan penelitian

Pengolahan data

Penyusunan skripsi

Seminar hasil

Ujian skripsi

x

x

x

x

x

x

x

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi, Drs. Dan Drs. Widodo Supriyono. Psikologi Belajar edisi revisi. Solo : Rineka Cipta

Arikunto, S, Suhardjono dan Supardi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. PT Bumi Aksara, Jakarta.

Dimyati, Drs. Dan Drs. Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Solo : Rineka Cipta

Hamalik, Oemar, Prof. Dr. 2009. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara

,. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara

Kunandar. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. PT RajaGrafindo Persada, Jakarta

Rusman, M.pd, Dr. 2010. Model-Model Pembelajaran mengembangkan Profesionalisme Guru.  Jakarta : Rajawali Pers

Slavin, R.E. 2008. Cooperative Learning: Teori, Riset, and Praktik. Terjemahan Nurulita. Nusa Media, Bandung.

Slameto, Drs. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta

Suprijono, Agus. 2010. Cooperative Learning. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Syah, Muhibbin, M.Ed. 2004. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung : Rosda

Tim Dosen PMIPA. 2007. Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah Edisi IV. Jurusan        Pendidikan MIPA-FKIP-UNLAM, Banjarmasin.

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif.  Jakarta : Kencana

Widdiharto, Rachmadi Dan Yudom Rudianto. 2010. Penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas Dalam Pembelajaran Matematika di SMP. Yogyakarta : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika

Widyantini, M.si, Dra. 2006. Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kooperatif. Yogyakarta : Departemen Pendidikan Nasional Pusat Pengembangan dan Penataran Guru Matematika

Masyarakat Perkembangan Iptek Dan Kesejahteran Sosial

PERKEMBANGAN IPTEK DALAM ASPEK SOSIAL

Bagi masyarakat sekarang, IPTEK sudah merupakan suatu religion. Pengembangan IPTEK dianggap sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Sementara orang bahkan memuja IPTEK sebagai liberator yang akan membebaskan mereka dari kungkungan kefanaan dunia. IPTEK diyakini akan memberi umat manusia kesehatan, kebahagian dan imortalitas. Sumbangan IPTEK terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri. Namun manusia tidak bisa pula menipu diri akan kenyataan bahwa IPTEK mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia. Dalam peradaban modern yang muda, terlalu sering manusia terhenyak oleh disilusi dari dampak negatif IPTEK terhadap kehidupan umat manusia.

Perbudakan dan penjajahan di North America, Asia dan Afrika hanya memungkinkan melalui dukungan teknologi. Perkembangannya di Eropa Barat membuahkan revolusi industri yang menindas kelas pekerja dan yang melahirkan komunisme. Produksi weapons of mass destruction, baik kimia, biologi ataupun nuklir tentu saja tidak bisa dipisahkan dari ilmu; belum lagi menyebut kerusakan ekosistem alam akibat dari kemajuan .Kalaupun ilmu pengetahuan dan teknologi mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti sinonim dengan kebenaran. Sebab IPTEK hanya mampu menampilkan kenyataan. Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan. Tentu saja tidak mengenal moral kemanusiaan,oleh karena itu ilmu pengetahuan dan teknologi tidak pernah bisa mejadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah kemanusiaan.

Dari segala dampak terburuk dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah dampak terhadap perilaku dari manusia penciptanya. dan telah membuat sang penciptanya dihinggapi sikap over confidence dan superioritas tidak saja terhadap alam lingkungan melainkan pula terhadap sesamanya. Eksploitasi terhadap alam dan dominasi pihak yang kuat (negara Barat) terhadap pihak yang lemah (negara dunia ketiga) merupakan ciri yang melekat sejak lahirnya revolusi industri.Oleh karena itu, dalam menghadapi fenomena ini pemerintah dianggap perlu mengembangkan suatu sistem pendidikan yang berbasis pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Tujuannya sangat sederhana, membuat pelajar-pelajar di negeri kita dapat bersaing dan mengejar ketertinggalan dari pelajar di negeri maju tanpa perlu kehilangan nilai-nilai kemanusian dan budaya yang kita miliki. Atau dengan kata lain, peserta didik di jenjang pendidikan dasar perlu diarahkan dan dibekali pendidikan teknologi guna menuju masyarakat yang “melek teknologi” yaitu bercirikan mampu mengenal, mengerti, memilih, menggunakan, memelihara, memperbaiki, menilai, menghasilkan produk teknologi sederhana, dan peduli terhadap masalah yang berkaitan dengan teknologi.

Bahan kajian yang diperuntukkan bagi jenjang pendidikan dasar dapat mencakup ranah teknologi dan masyarakat, produk teknologi, serta perancangan dan pembuatan karya teknologi sederhana. Agar perolehannya bermakna, maka pembelajaran kurikulum pendidikan teknologi hendaknya berintikan pemecahan masalah dengan pendekatan empat pilar belajar, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.

 

 

Jika kita mengikuti perkembangan beberapa hal yang banyak disangkutkan dengan kemajuan iptek akhir-akhir ini sedang banyak di perbincangkan oleh media masa salah  satunya Research In Motion (RIM) . Selama ini RIM telah melayani pelanggan jutaan BlackBerry dari berbagai negara. Jadi, soal data center ini, RIM lebih memfokuskan soal jaminan koneksi yang andal untuk para pelanggan. Soal penempatan data center di Indonesia adalah satu dari tujuh poin permintaan pemerintah kepada RIM. Salah satu alasan mengapa Menteri Tifatul menganggap penting penempatan data center BlackBerry di Indonesia adalah agar pemerintah bisa mengawasi  lalulintas komunikasi yang berkaitan dengan korupsi dan terorisme.

Selama ini, komunikasi lewat jaringan BlackBerry Messenger memang tak terlacak. ini salah satu alasan pemerintah ingin menutup layanan Blackberry di indonesia.!!
Jadi terkadang perkembangan iptek tak selamanya terdukung oleh fakta yang ada sebagai pemuda kita hanya bisa memilah dan memilih, dan semua itu tergantung pengguna benar kata Bang NAPI “kejahatan bukan karna ada niat pelakunya tapi karna ada kesempatan,”  dan jangan salah kan waktu yang bicara kalau saatnya kita merasa kejamnya dunia.!!

DAMPAK PERKEMBANGAN IPTEK TERHADAP KEBUTUHAN SOSIAL

A.    Hubungan IPTEK dan Kehidupan Sosial

Dalam abad XX, IPA telah berkembang pesat berkat pemakaian alat-alat yang makin sempurna, sehingga mendapat sebutan IPA modern.  Kemajuan IPA mendorong majunya teknologi yang makin dapat memakmurkan kehidupan manusia, karena tujuan teknologi memang diadakan untuk kebutuhan manusia.  Namun, di samping tujuan dapat tercapai, terjadi pula dampak sampingan (side-effect)  yang dapat mengganggu. Untuk itu diupayakan peningkatan kegunaan teknologi dan memperkecil dampaknya.  Bila hal tersebut tercapai, maka kegiatan mempergunakan teknologi memperoleh nilai ekonomis yang berarti.  Misalnya, pemakaian pesawat terbang besar dan cepat memudahkan orang mencapai tujuan, tetapi kejatuhannya menimbulkan risiko besar.  Jadi, tujuan dapat dicapai dengan hasil maksimal, sementara dampaknya diperkecil.

Abraham Harold Maslow berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki berbagai kebutuhan yang digambarkan sebagai piramida : landasannya lebar, makin ke atas makin kecil.  Kebutuhan pertama yang wajib dipenuhi manusia adalah kebutuhan fisik yang juga dapat disebut sebagai kebutuhan primer (basic needs) : sandang, pangan dan papan (tempat tinggal).  Setelah kebutuhan fisik terpenuhi, manusia perlu keamanan demi kelangsungan hidupnya.  Kemudian diperlukan bermasyarakat sebagai kehidupan sosial selaku homo socius.  Manusia yang dapat lebih cepat dan banyak memperoleh kebutuhan hidupnya merasa perlu memperoleh harga diri.  Akhirnya manusia memerlukan aktualisasi diri sebagai tujuan tertinggi.  Keempat tujuan terakhir, yaitu keamanan, pengakuan sosial, harga diri, dan aktualisasi diri merupakan kebutuhan psikis, yang dapat juga disebut sebagai kebutuhan sekunder ataupun tersier.  Dari hari ke hari kebutuhan manusia baik fisik maupun psikis terus meningkat, secara kuantitatif maupun kualitatif.

Pengetahuan teknologi (technological knowledge) merupakan pengetahuan mengenai proses-proses fisik yang secara operasional terwujud dalam teknologi.  Sehingga kemampuan berteknologi (tecnological capability) merupakan usaha untuk menggunakan tenaga teknologi secara efektif yang dapat dicapai melalui upaya teknologis (tecnological effort) .  Tujuan positifnya bagi manusia yang akan dicapai , sementara dampak sampingan yang negatif perlu diperkecil.

Kehidupan sosial dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Kebutuhan manusia akan pangan sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi pertanian, sedangkan kebutuhan akan komunikasi dipengaruhi oleh teknologinya, seperti media cetak, media elektronik yang selain untuk berkomunikasi, juga dapat memperluas wawasannya.  Masyarakat memang banyak yang mengeluh dampak negatif dari teknologi, tetapi kegiatannya terus dilakukan karena tetap masih lebih banyak untung daripada ruginya.

 

B.     Dampak Perkembangan IPTEK terhadap Kebutuhan Pokok

1.  Pangan

Pangan merupakan kebutuhan pokok yang paling utama sebab tanpa pangan manusia akan mati, kelestarian hidupnya terancam, dan manusia berupaya untuk menjauhkan diri dari kematian.  Alam menyediakan macam-macam kebutuhan pangan untuk diusahakan dengan teknologi, mula-mula sederhana, makin hari makin maju.

Ikan merupakan lauk pauk yang umum bagi masyarakat.  Ikan segar dapat diperoleh dari kali, danau, atau laut.  Untuk memperoleh produksi ikan yang dapat dipasarkan, orang mempergunakan keramba di sungai atau di danau.  Di daerah pantai diusahakan pertambakan udang atau bandeng.   Untuk menghindari pembusukan dijalankan teknologi penjemuran di panas matahari sehingga diperoleh ikan kering, atau diberi garam sehingga diperoleh ikan asin.  Teknologi modern mempergunakan kaleng sebagai sarana pengawetannya selalu tahan lama dan baunya tidak mengganggu lingkungan.

Daging juga merupakan bahan makanan yang diperoleh dari binatang.  Peternakan dapat dilakukan secara tradisional, yaitu membiarkan ternak di padang penggembalaan, sehingga mutu dagingnya termasuk rendah akibat kurusnya ternak atau modern dengan mempergunakan kandang  yang binatangnya ditempatkan dalam kandang dengan makanan dan minumnya dicukupi oleh pemiliknya, sehingga kualitas hasil ternaknya lebih tinggi dan sehat.  Contoh yang dikenal adalah pada peternakan ayam ras yang memang memerlukan modal besar, tetapi memberikan janji memperoleh keuntungan besar.

Sayuran dan buah-buahan merupakan pelengkap kebutuhan makanan. Agar produktivitasnya dapat lebih tinggi, maka untuk kesuburan tanaman diberi pupuk.  Yang tradisional adalah pupuk kandang, sedangkan yang modern adalah adalah pupuk buatan, produksi pabrik yang makin dinilai mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan manusia.

Jumlah peduduk yang terus meningkat, sementara itu tanaman bahan makanan mudah terganggu penyakit,  sehingga diperlukan usaha meningkatkan hasil pertanian sekaligus dapat menghindarkan tanaman dari penyakit.  Caranya dengan mempergunakan teknologi pertanian, terutama dengan mempergunakan varietas unggul .  Cara yang  demikian disebut sebagai revolusi hijau (green revolution).  Selain benih unggul, perlu ditunjang oleh teknologi penggarapan tanah, pemeliharaan dan pengolahan. Cara lain yang dilakukan adalah revolusi biru (blue revolution)  yang merupakan kegiatan untuk meningkatkan pemanfaatan hasil laut.  Tidak lagi sekedar menangkap ikan dengan perahu di pantau, tetapi juga sudah harus menagkap ikan besar dengan kapal di laut bebas atau pun memanfaatkan tanaman-tanaman di laut untuk kesejahteraan manusia.

2.  Sandang

Sandang atau pakaian sekarang bukan lagi sekedar melindungi tubuh terhadap gangguan cuaca, melainkan sudah meningkat sebagai lambang status sosial, lebih-lebih sebagai barang dagangan.

Dahulu, pernah orang memakai kulit kayu sebagai pakaian, tetapi populasi penduduk jauh lebih pesat daripada tanaman penghasilnya.  Oleh karena itu, dipergunakan kapas yang memrlukan cara tanam dan olah yang lebih tinggi teknologinya.  Ini pun sekarang tidak juga mencukupi kebutuhan manusia akan sandang.  Sutra yang dihasilkan oleh ulat merupakan bahan yang lembut dan bagus yang dahulu pusatnya di Cina.  Sementara itu bangsa-bangsa di Timur Tengah mempergunakan bulu domba yang menghasilkan wol sebagai bahan sandang yang bagus.  Itu pun tidak cukup, sehingga orang dengan teknologi lebih maju mempergunakan serat sintetis baik yang berasal dari tanaman yang diproses secara kimiawi menjadi benang (rayon) maupun dari bahan tambang seperti batu bara, atau minyak bumi yang diproses menjadi poliester, poliprolin, atau polietilin.  Kegiatan-kegiatan yang sifatnya positif tersebut, sekaligus diantisipasi segi negatifnya.  Bahan sintetis yang bersifat plastik jangan sampai menimbulkan sampah plastik dengan jalan mengolahnya kembali atau mencari bakteri yang mampu memakan bahan plastik.

Pengolahan dari bahan mentah menjadi kain secara tradisional dilakukan dengan cara tenun yang mekanis dengan tetap mengandalkan tenaga dan keterampilan manusia.  Penyempurnaan dilakukan dengan lebih maju berupa alat tenun bukan mesin yang produksinya lebih tinggi.  Akhirnya sekarang dipergunakan mesin yang bersifat elektronik sehingga produktivitasnya tinggi.

 

3.  Papan

Papan yang berarti tempat tinggal pada mulanya hanya sebagai tempat untuk memperoleh rasa aman, terlindung dari gangguan cuaca atau binatang, malahan mungkin dari manusia yang lain.  Rumah tradisional yang dihasilkan  dari bahan alami yang terdapat di sekitar tempat tinggal.  Bahan bangunan rumah tradisional mudah rusak karena cuaca atau dimakan rayap, sehingga batas waktu tertentu terpaksa diperbaiki, bahkan diganti.  Biasanya cukup mahal, sehingga secara ekonomis merugikan.

Manusia berusaha memperoleh tempat tinggal yang aman dan nyaman.  Untuk itulah dibangun rumah yang bahan-bahannya lebih tahan lama, dapat puluhan bahkan ratusan tahun.  Tembok rumah dari bata yang diberi lapisan dengan bahan semen, lantai yang bahannya dari semen dalam wujud tegel atau keramik menghasilkan tempat tinggal yang kuat dan tahan lebih lama.

Pemikiran modern untuk tempat tinggal yang sehat diwujudkan dengan membentuk kota taman mandiri.  Merupakan taman karena dipelihara ekologi yang berimbang antara tempat tinggal dengan lingkungan yang hijau.  Mandiri karena kebutuhan warganya terpenuhi semuanya, tidak harus tergantung pada tempat lain, misalnya sekolah, poliklinik, rumah sakit, pasar, taman rekreasi, tenaga kerja, bahkan kuburan.

C.    Dampak Pembangunan Industri dan Transportasi Modern

1.  Dampak Industri

Dampak industri yang sangat terasa dalam bidang ekonomi.  Pemakaian mesin menghasilkan produksi yang melimpah.  Produk banyak demikian tidak tertampung lagi dalam pasaran lokal atau nasional, sehingga harus disalurkan ke pasar internasional.  Demi kelancaran pemasaran, para kapitalis modern mempengaruhi politik pemerintahannya, mendesak agar pemerintah mendukung usahanya mencari atau merestui pasaran di negara lain, bila perlu dengan dukungan militer keras.  Timbullah imperialisme modern yang menitikberatkan kegiatannya dalam bidang ekonomi setelah revolusi industri.  Di samping mencari daerah pemasaran, juga dilakukan usaha memperoleh bahan mentah yang murah.  Cara demikian menyebabkan keuntungan kaum kapitalisyang didukung pemerintah yang imperealis memperoleh keuntungan sangat besar.

Bila negara imperialis banyak memperoleh keuntungan melalui cara-cara modern tersebut, dampaknya terasa di mana-mana.  Di negara sendiri kaum kapitalis-imperialis merasakan pencemaran (polusi) yang semula kurang diperhitungkan, setelah timbul dampak sampingnya barulah disadari.  Contohnya kota Birmingham di Inggris.  Dengan dilakukan revolusi industri, maka tanah di wilayah kota tersebut banyak dicemari sisa pembakaran bahan bakarnya yang berwarna hitam.  Sementara itu udaranya  pun dicemari oleh asap hitam dari cerobong pabrik  (waktu itu yang dipergunakan masih mesin uap), sehingga udara juga hitam, panas matahari kurang dapat menembus ke bawah.  Kota Birmingham memperoleh julukan  The Black Country dan menjadi tempat tinggal yang tidak sehat

2.      Dampak Transportasi

Dengan tata transportasi yang diciptakan, manusia memperoleh beberapa keuntungan.  Pertama, kendaraan yang diciptakan mampu bergerak lebih cepat daripada gerak si pencipta sendiri, sehingga waktu yang diperlukan bergerak dari satu tempat ke tempat lain lebih singkat.  Waktu dirasakan makin berharga, sehingga timbul sebutan time is money.  Jalannya waktu yang perlu cepat diikuti mengakibatkan jam memperoleh pasaran yang luas sebagai kebutuhan sekunder bagi manusia modern.  Kedua, kemampuan mengangkat dan mengusung oleh manusia ataupun binatang yang biologis terbatas dalam tingkat yang rendah.  Alat-alat pengangkut manusia yang dibuat dari bahan-bahan abiologis jauh lebih kuat.  Roda yang di atasnya diberi tempat barang dan dibuat dari besi, kapal besi yang besar memiliki daya angkat yang jauh lebih besar dan berat daripada daya angkut manusia dan binatang.  Namun, kedua kelebihan tersebut memiliki konsekuensi atau dampak sampingan yang negatif.

 

D.    Dampak IPTEK terhadap bidang Komunikasi, Kesehatan dan Sumber Daya Alam

1.  Dampak IPTEK dalam Bidang Komunikasi

Sebelum dipergunakan alat-alat komunikasi yang elektronik, manusia berkomunikasi secara alami.  Manusia berhadapan muka (face to face) berbicara dalam keakraban untuk jarak lebih jauh dengan tanda-tanda seperti dengan kentongan, tanda Morse, atau memakai bendera.

Setelah manusia menemukan alat komunikasi elektronik yang diawali dengan penemuan telepon oleh Alexander Graham Bell (1847-1922) komunikasi secara tatap muka seperti hilang, hanya suara terdengar.  Sarana komunikasi dengan radio dan televisi dalam wujud berita menyebabkan manusia mengetahui juga berita tentang orang atau bangsa lain.

Komunikasi melalui telepon mengalami beberapa  kali kemajuan.  Pada mulanya telepon mempergunakan kawat  sebagai sarana penghubungnya dan diperlukan orang sebagai operator.  Kemudian ada telepon otomat yang tidak memerlukan operator.  Sekarang orang dengan mudah dapat berhubungan dengan telepon melalui satelit.  Komunikasi secara tertulis yang tradisional dilakukan dengan surat.  Yang modern telah mempergunakan telegram, teleks, faksimile yang bekerjanya jauh lebih cepat.  Komunikasi dengan cara-cara tersebut di atas praktis memberikan nilai positif bagi manusia.  Hanya biaya yang relatif lebih mahal yang harus ditanggung.  Hal-hal yang negatif praktis tidak ada.  Suatu sumbangan besar bagi kesejahteraan manusia.

 

2.  Dampak IPTEK terhadap Kesehatan

Penyakit berupa kuman secara ekologi harus ada di bumi.  Kalau tidak ada, maka dunia akan penuh dengan makhluk hidup yang pada akhirnya bumi tidak mampu lagi mendukung kehidupan manusia.  Ada sejumlah penyakit yang menular, sehingga membahayakan masyarakat diantaranya malaria, kolera, cacar, frambusia, paru-paru, kelamin dan lain-lain.  Sekarang yang menakutkan adalah AIDS (acquired immunodeficiency syndrome),  yaitu penyakit akibat manusia kehlngan kekebalan tubuh dan sampai sekarang belum diperoleh obatnya yang mujarab.  Penularannya melalui hubungan kelaamin, jarum suntik yang tidak steril lagi setelah dipergunakan oleh penderita AIDS.

Cara-cara lama pengobatan penyakit dilakuakn oleh dukun yang umumnya mistis, sedangkan obat-obatan untuk penyembuhan diwujudkan dalam bentuk jamu.  Kedua cara penyembuhan tersebut sampai sekarang masih banyak dipergunakan.

Pengobatan fisik modern dilakukan oleh dokter dan resepnya berupa obatbyang pembuatannya secara kimiawi oleh pabrik.  Masyarakat yang makin modern lebih meyakini  keampuhan pengobatan modern, sehingga peran dukun dan jamu kian terdesak.

Keberhasilan mengatasi penyakit, terutama penyakit menular, menyebabkan angka kematian (mortalitas) menurun, sehingga populasi penduduk terus meningkat.  Akibatnya manusialanjut usia, yaitu yang usianya lebih dari 60 tahun dan disebut lansia, makin hari makin banyak juga.

3.      Dampak IPTEK terhadap Sumber Daya Alam

a.  Tanah

Tanah merupakan tempat manusia hidup, walaupun ada manusia yang hiduip di perahu, seperti suku Bajo, tetapi jumlahnya amat sedikit.  Di tanah jugalah manusia memperoleh tanaman yang akan dimakan, terutama zaman dahulu hidupnya sebagai petani.  Tanah telah ribuan tahun dimanfaatkan oleh manusia, kesuburannya makin berkurang, tanah menjadi tandus.  Manusia berusaha agar kesuburan tanah dapat terus dipelihara.  Berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya yang makin banyak dilakukan pemupukan secara alami yang secara ekologis memang benar.  Namun, karena pertumbuhan penduduk terus bertambah secara cepat, usaha memelihara kesuburan tanah dalam zaman modern dilakukan dengan pupuk pabrik.  Pemakaian dengan produk teknologi modern demikian dapat menimbulkan efek samping.

Sementara itu usaha mencukupi kebutuhan akan pangan dilakukan dua cara : intensifikasi dan ektensifikasi pertanian.  Pulau Jawa yang kecil, tetapi penduduknya paling banyaK memerlukan cara intensifikasi.  Dengan demikian, daerah yang sempit dapat memberikan hasil yang optimal.  Dilakukan dengan cara mempergunakan bibit unggul (green revolution), pemupukan, pemberantasan hama tanaman, penangangan pascapanen.

Cara ektensifikasi di Indonesia telah dilakukan pada zaman Belanda.  Akibat tanam paksa, banyak bangsa Indonesia menjadi miskin.  Oleh pemerintah Belanda mereka yang tanahnya sangat sempit (akibat dijual) diberi kesempatan pindah ke luar Jawa.  Populer waktu itu dengan istilah kolonisasi sebab yang dipindahkan memang petani (colonus = petani).  Cara demikian diteruskan oleh pemerintah RI dengan istilah transmigrasi, artinya perpindahan penduduk memakai alat angkutan.  Cara demikian bukan hanya untuk Pulau Jawa, Pulau Bali pun banyak penduduknya yang transmigrasi.  Untuk itu diperlukan tanah yang makin luas guna dimanfaatkan sebagai area pertanian.

b.      Air

Air merupakan sumber daya alam penting bagi kehidupan manusia.  Air yang tercemar dapt mengancam kehidupan manusia.  Air bersih dalam pengertian ekologi adalah air yang memungkinkan makhluk hidup bertempat tinggal, walaupun wujudnya keruh.  Bagi manusia yang tingkat peradabannya tinggi, diperlukan air bersih dalam wujud warna jernih atau putih.  Bila tidak dalam keadaan terpaksa, manusia enggan minum air yang keruh warnanya.

Secara alami, manusia dapat memperoleh air dari mata air, sungai, dan danau yang merupakan air permukaan umum.  Rakyat yang di lapisan bawah pada umumnya mengkonsumsi air permukaan umum, karena tersedia di alam sehingga diperoleh secara gratis.  Dengan pengalaman dan kecerdasannya, manusia membuat sumur dekat dengan tempat tinggalnya, mula-mula dengan membuat lubang di mana air bawah tanah tertampung, kemudian membuat sumur yang mempergunakan pompa tangan yang kerjanya mekanis, sekarang dengan pompa listrik yang memanfaatkan energi listrik, sehingga tenaga manusia tidak dipakai.  Air bawah tanah merupakan air tanah preatik yang terdapat di atas lapisan kedap air dengan permukaan bumi.  Konsumennya pada umumnya golongan menengah.  Perebutan memperoleh air bersih di kota-kota besar makin terasa.  Pompa tangan atau pompa listrik dengan kekuatan kecil makin dikalahkan oleh jet pump, pompa listrik dengan kekuatan tinggi, sehingga daya serapnya kecil.  Yang menjadi konsumennya golongan atas atau perusahaan seperti pabrik, hotel yang sangat memerlukan air.  Air bawah tanah demikian diperoleh dari air tanah artesis, yaitu air tanah yang terdapat pada lapisan lolos air, terletak antara dua batuan kedap air.  Kekayaan alam demikian untuk pengambilannya sudah dikenakan pajak.  Air artesis dapat muncul dekat pantai atau di pulau.

c.  Udara

Udara merupakan kebutuhan lain untuk makhluk hidup terdapat di atmosfer.  Komposisi gas dalam udara terutama terdiri dari oksigen sekitar 20%, karbon dioksida 0,03%, air yang bergantung pada daerahnya.  Komponen-komponen tersebut merupakan bahan baku bagi kehidupan organisme.  Kekotoran udara di kota terutama disebabkan  karena terlalu padatnya manusia yang tinggal, sisa bahan bakar kendaraan bermotor atau industri.  Di samping itu adanya suara bising (noise pollution) baik karena kendaraan darat bermotor, lebih-lebih oleh bunyi pesawat terbang (terutama bagi penduduk yang tinggal dekat bandara).

d.  Bahan Tambang

Kebutuhan manusia yang kian banyak tidak tercukupi lagi oleh sumber daya alam di permukaan tanah, lalu dicarilah yang di bawah tanah ataupun di laut demi kesejahteraan  hidupnya. Sumber daya alam tidak habis (afosil), karena asalnya bukan dari makhluk hidup .  Yang tidak adapat diubah misalnya tenaga atom, curah hujan, tenaga pasang surut.  Kalau pun berubah melalui kegiatan manusia, namun tidak terlalu mudahdi lakukan.  Yang dapat disalahgunakan oleh manusia sehingga kualitasnya menurun, misalnya matahari, atmosfer, perairan dan pemandangan alam.

Sumber daya alam yang akan habis(fosil) karena asalnya dari makhluk hidup yang sudah ribuan bahkan jutaan tahun.  Sumber daya alam yang dapat dipertahankan dibedakan atas yang dapat diperbarui (renewable) wujudnya flora dan fauna.  Demi kesejahteraan hidupnya, manusia berusaha hanya sekedar memperbarui, melainkan melipatgandakan.  Sedangkan yang tidak dapat diperbarui (nonrenewable) wujudnya adalah satwa liar, ekosistem alami oleh manusia diusahakan agar tetap terpelihara karena itu dilindungi.  Sedangkan sumber daya alam yang tidak dapat dipertahankan dapat dilakukan pertama dengan menggunakannya lagi seperti logam dan permata.  Lingkup konsumsinya kecil.  Yang tidak dapat digunakan lagi seperti minyak bumi, gas bumi, timah, dan besi diusahakan oleh manusia agar pemakaiannya dihemat atau dicari penggantinya (tiruan) karena lingkup konsumsinya besar.  Pada akhir abad XX, dunia berteriak akan habisnya sumber minyak bumi, sehingga diperlukan penghematan dan dicari sumber energi lain sebagai alternatifnya.

Rangkuman

Dalam abad XX, IPA telah berkembang pesat berkat pemakaian alat-alat yang makin sempurna, sehingga mendapat sebutan IPA modern.  Kemajuan IPA mendorong majunya teknologi yang makin dapat memakmurkan kehidupan manusia, karena tujuan teknologi memang diadakan untuk kebutuhan manusia.  Namun, di samping tujuan dapat tercapai, terjadi pula dampak sampingan (side-effect)  yang dapat mengganggu. Untuk itu diupayakan peningkatan kegunaan teknologi dan memperkecil dampaknya.  Bila hal tersebut tercapai, maka kegiatan mempergunakan teknologi memperoleh nilai ekonomis yang berarti.

Pengetahuan teknologi (technological knowledge) merupakan pengetahuan mengenai proses-proses fisik yang secara operasional terwujud dalam teknologi.  Sehingga kemampuan berteknologi (tecnological capability) merupakan usaha untuk menggunakan tenaga teknologi secara efektif yang dapat dicapai melalui upaya teknologis (tecnological effort) .  Tujuan positifnya bagi manusia yang akan dicapai, sementara dampak sampingan yang negatif perlu diperkecil.

Kehidupan sosial dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Kebutuhan manusia akan pangan sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi pertanian, sedangkan kebutuhan akan komunikasi dipengaruhi oleh teknologinya, seperti media cetak, media elektronik yang selain untuk berkomunikasi, juga dapat memperluas wawasannya.  Masyarakat memang banyak yang mengeluh dampak negatif dari teknologi, tetapi kegiatannya terus dilakukan karena tetap masih lebih banyak untung daripada ruginya.

 

Ilmu Sosial Budaya Dasar

Pengertian Ilmu Budaya Dasar

Secara sederhana IBD adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum  tentang  konsep-konsep  yang dikembangkan  untuk  mengkaji  masalah-masalah  manusia  dan  kebudayaan.  Istilah IBD dikembangkan petama kali di Indonesia sebagai pengganti istilah basic humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa Inggris  “the  Humanities”.  Adapun  istilah  humanities  itu  sendiri  berasal  dari  bahasa  latin  humnus  yang  astinya  manusia, berbudaya dan halus. Dengan mempelajari th humanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Dengan mempelajari the humanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih  berbudaya  dan  lebih  halus.  Dengan  demikian  bisa  dikatakan  bahwa  the  humanities  berkaitan  dengan  nilai-nilai manusia  sebagai homo humanus  atau manusia  berbudaya. Agar manusia  menjadi  humanus, mereka  harus mempelajari ilmu yaitu the humanities disamping tidak meninggalkan tanggung jawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri. Pengetahuan  budaya  (the  humanities)  dibatasi  sebagai  pengetahuan  yang  mencakup  keahlian  (disilpin)  seni  dan filsafat.  Keahlian  inipun  dapat  dibagi-bagi  lagi  ke  dalam  berbagai  hiding  keahlian  lain,  seperti  seni  tari,  seni  rupa,  seni musik,dll.   Sedangkan   ilmu   budaya   dasar   (Basic   Humanities)   adalah   usaha   yang   diharapkan   dapat   memberikan pengetahuan  dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep  yang dikembangkan  untuk mengkaji masalah-masalah manusia  dan  kebudayaan.  Dengan  perkataan  lain  IBD  menggunakan  pengertian-pengertian  yang  berasal  dari  berbagai bidang  pengetahuan  budaya  untuk  mengembangkan  wawasan  pemikiran  serta  kepekaan  mahasiswa  dalam  mengkaji masalah masalah manusia dan kebudayaan.

Ilmu budaya dasar berbeda dengan pengetahuan  budaya. Ilmu budaya dasar dalam bahasa  Ingngris disebut  basic humanities.  Pengetahuan  budaya  dalam  bahas  inggris  disebut  dengan  istilah  the  humanities.  Pengetahuan  budaya mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk berbudaya (homo humanus).  Sedangkan ilmu budaya dasar bukan ilmu  tentang  budaya,  melainkan  mengenai  pengetahuan  dasar  dan  pengertian  umum tentang  konsep-konsep  yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan budaya. Pokok-pokok bahasan yang dikembangkan adalah manusia dan cinta kasih, manusia dan Keindahan, Manusia dan Penderitaan, Manusia dan Keadilan, Manusia dan Pandangan hidup, Manusia dan tanggungjawab serta pengabdian, Manusia dan kegelisahan, Manusia dan harapan.

Manusia

Dalam  ilmu-ilmu  sosial,  manusia  merupakan  mahluk  yang  ingin  memperoleh keuntungan  atau  selalu  memperhitungkan  setiap  kegiatan,  sering  disebut  homo  economicus  (  ilmu  ekonomi  ). Manusia merupakan  mahluk  sosial  yang tidak  dapat  berdiri  sendiri  (  sosiologi  ),  mahluk  yang  selalu  ingin  mempunyai  kekuasaan ( politik ). Dan lain sebagainya.

Hakekat Manusia

  1. Mahluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh
  2. Mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, jika dibandingkan denan mahluk lainnya
  3. Mahluk biokultural yaitu mahluk hayati yang budayawi
  4. Mahluk  Ciptaan  Tuhan  yang  terkait  dengan  lingkungan,  mempunyai  kualitas  dan  martabat  karena  kemampuan bekerja  dan berkarya

Kebudayaan

Pengertian kebudayaan banyak sekali dikemukakan oleh para ahli. Salah satunya dikemukakan oleh Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, yang merumuskan  bahwa  kebudayaan  adalah  semua  hasil  dari  karya,  rasa  dan  cipta  masyarakat.  Karya  masyarakat menghasilkan  teknologi  dan  kebudayaan  kebendaan,  yang  diperlukan  manusia  untuk  menguasa  alam  sekitarnya,  agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk kepntingan masyarakat.

Rasa  yang  meliputi  jiwa  manusia  mewujudkan  sega  norma  dan  nilai  masyarakat  yang  perlu  untuk  mengatur masalah-masalah  kemasarakatan    alam arti luas.,  didalamnya  termasuk,  agama,  ideology,  kebatinan,  kenesenian  dan semua unusr yang merupakan hasil ekspresi dari jiwa manusia. Yang hidup sebagai anggota masyarakat. Selanjtunya cipta merupakan   kemampuan   mental,   kemampuan   piker   dari   orang   yang   hidup   bermasyarakat   dan   yang   antara   lain menghasilkan  filsafat  serta ilmu pengetahuan. Rasa dan cipta dinamakan  kebudayaan rohaniah.  Semua karya, rasa dan cipta  dikuasai  oleh  karsa  dari  orang-orang  yang  menentukan  kegunaannya,  agar  sesuai  dengan  kepentingan  sebagian besar, bahkan seluruh masyarakat.

Dari  pengetian  tersebut  menunjukkan  bahwa  kebudayaan  itu  merupakan  keseluruhan  ari  pengetahuan  manusia sebagai  mahluk  sosial,  yang  digunakan  untuk  menginterpretasikan  dan  memahami  lingkungan  yang  dihadapi,  untuk memenuhi  segala  kebutuhannya serta  mendorong  terwujudnya  kelakuan  manusia  itu sendiri.Atas  dasar  itulah        para  ahli mengemukakan adanya unsur kebudayaan yang umumnya diperinci menjadi 7 unsur yaitu :

  1. unsur religi
  2. sistem kemasyarakatan
  3. sistem peralatan
  4. sistem mata pencaharian hidup
  5. sistem bahasa
  6. sistem pengetahuan
  7. seni

Perubahan kebudayaan pada dasarnya tidak lain dari para perubahan manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi wadah  kebudayaan  itu.  Perubahan  itu  terjadi  karena  manusia  mengadakan  hubungan  dengan  manusia  lainnya,  atau karena  hubungan  antara  kelompok  manusia  dalam  masyarakat.  Tidak  ada  kebudayaan  yanga  statis,  setiap  perubahan kebudayaan mempunyai dinamika, mengalami perubahan; perubahan itu akibat dari perubahan masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan tersebut.

Cinta Kasih

Menurut kamus umum bahasa Indonesia karya WJS Poerwadarminta. Cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa)  sayagn  (kepada).  Ataupun  rasa  sangat  kasih  atau  sangat  tertarik  hatinya  sedangkan  kata  kasih  artinya perasaan saying atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai menaruh belas kasihan.

Penderitaan

Penderitaan  berasal  dari  kata  derita.  Kata  derita  berasal  dari  bahasa  sansekerta  dhra  artinya  menahan  atau menanggung. Derita artinya   menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan dapat berupa penderitaan lahir atau batin atau lahir dan batin. Penderitaan termasuk realitas manusia dan dunia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat,  ada  yang  berat,  ada  yang ringan.  Namun  peranan  individu  juga  menentukan  berat-tidaknya  intensitas penderitaan. Suatu  pristiwa   yang dianggap penderitaan  oleh  seseorang belum tentu merupakan  penderitaan  bagi orang lain.  Dapat  pula suatu  penderitaan  merupakan  energi untuk  bangkit kembali  bagi seseorang, atau  sebagai langkah awal untuk mencpai kenikmatan dan kebahagiaan.

Keindahan

Kata  keindahan  berasal  dari  kata  indah,  artinya  bagus,  permai,  cantik,  elok,  molek  dan  sebagainya.  Keidahan  identik dengan kebenaran. Keindahan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi,  dan  mempunyai  daya  tarik  yang  selalu  bertambah.  Yang  tidak  mengandung  kebenaran  berarti  tidak  indah. Keindahan  juga  bersifat  universal,  artinya tidak  terikat  oleh  selera  perseorangan,  waktu  dan  tempat,  kedaerahan,  selera mode, kedaerahan atau lokal.

Keadilan

Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan pelakuan yang seimbang antara  hak-hak  dan  kewajiban.  Keadilan  terletak  pada  keharmonisan  menuntuk  hak  dan  menjalankan  kewajiban.  Atau dengan  kata  lain,  keadilan  adalah  keadaan  bila  setiap  orang  memperoleh  apa  yang  menjadi  hak  nya  dan  setiap  orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama. Berbagai Macam Keadilan:

  1. Keadilan legal atau keadilan moral

Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjadi kesatuannya. Dalam masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan menurut sifat dasarnya paling cocok baginya ( the man behind the gun ). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan oleh yang lainnya disebut keadilan legal

  1. Keadilan distributive

Aristotele berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan tidak sama (justice is done when equels are treated equally).

  1. Keadilan komutatif

Keadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum.Bagi Aristoteles pengertian keadilan  ini  merupakan  asas  pertalian  dan  ketertiban  dalam  masyarakat.  Semua  tindakan  yang  bercorak  ujung ekstrem menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat

Pandangan hidup

Setiap  manusia  mempunyai  pandangan  hidup.  Pandangan  hidup  itu  bersifat  kodrati  karena  ia  menentukan  masa  depan seseorang. Pandangan hidup artinya pendapat  atau pertimbangan  yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan,  petunjuk hidup  di  dunia.  Pendapat  atau  pertimbangan  itu  merupakan  hasil  pemikiran  manusia  berdasarkan  pengalaman  sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya. Dengan demikian pandangan hidup itu bukanlah  timbul seketika atau dalam waktu yang singkat saja, melainkan melalui proses waktu yang lama dan terus menerus, sehingga hasil pemikiran itu dapat diuji kenyataannya.  Hasil  pemikiran  itu  dapat  diterima  oleh  akal,  sehingga  diakui  kebenarannya.  Atas  dasar  itu  manusia menerima  hasil  pemikiran  itu  sebagai  pegangan,  pedoman,  arahan,  atau  petunjuk  yang  disebut  pandangan  hidup. Pandangan hidup berdasarkan asalnya yaitu terdiri dari 3 macam :

  1. Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya
  2. Pandangan hidup yang berupa ideology yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada suatu Negara
  3. Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.

Apabila  pandangan  hidup  itu  diterima  oleh  sekelompok  orang  sebagai  pendukung  suatu  organisasi,  maka  pandangan hidup itu   disebut ideology. Pandangan hidup pada dasarnya mempunyai unsure-unsur   yaitu : cita-cita, kebajikan, usaha, keyakinan/kepercayaan. CIta-cita ialah apa yang diinginkan yang mungkin dapat dicapai dengan usaha atau perjuangan. Tujuan yang hendak dicapai ialah kebajikan, yaitu segala hal yang baik yang membuat manusia makmur, bahagia, damai, tentram. Usaha atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi keyakinan/kepercayaan. Keyakinan/kepercayaan diukur dengan kemampuan akal, kemampuan jasmana, dan kepercayaan kepada Tuhan.

Tanggungjawab

Tanggungjawab   adalah   keadaan   wajib   menanggung   segala   sesuatunya.   Sehingga   bertanggungjawab   adalah kewajiban  menanggung,  memikul  jawab,  menanggung  segala  sesuatunya,  atau  memberikan  jawaban  dan  menanggung akibatnya. Tanggungjawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggungjawab juga juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Seseorang mau bertanggungjawab karena ada kesadaran atau keinsafan atau pengertian atas segala perbuatan  dan akibatnya dan atas  kepentingan  pihak  lain.  Timbulnya  tanggungjawab  itu  karena  manusia  itu  hidup  bermasyarakat  dan  hidup  dalam lingkungan  alam.  Tanggungjawab  itu  bersifat  kodrati,  artinya  sudah  menjadi  bagian  kehidupan  manusia,  bahwa  setiap manusia  pasti  dibebani  dengan  tanggungjawab.

Apabila dikaji, tanggungjawab itu adalah kewajiban atau beban yang harus dipikul atau dipenuhi sebagai akibat dari pebuatan  pihak  yang  berbuat,  atau  sebagai  akibat  dari  perbuatan  pihak  lain,  atau  sebagai  pengabdian  pada  pihak  lain. Kewajiban  atau  beban  itu  ditujukan  untuk  kebaikan  pihak  yang  berbuat  sendiri  atau  pihak  lain  dengan  keseimbangan, keserasian  keselarasan  antara  sesama  manusia,  antara manusia  dan  lingkungan,  antara  manusia  dan  Tuhan  selalu dipelihara dengan baik. Tanggungjawab itu cirri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggungjawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya.  Untuk  memperoleh  atau  meningkatkan  kesadaan  bertanggungjawab  perlu  ditempuh  usaha  melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan, dan takwa terhadap Tuhan. Macam-macam Tanggungjawab :

  1. Tanggungjawab terhadap diri sendiri
  2. Tanggungjawab terhadap Keluarga
  3. Tanggungjawab terhadap  masyarakat
  4. Tanggungjawab terhadap bangsa / Negara
  5. Tanggungjawab terhadap Tuhan

Kegelisahan

Kegelisahan berasal dari kata gelisah, yang berarti tidak tenteram hatinya, selalu merasa kwatir tidak tenang, tidak sabar,  cemas.  Sehingga  kegelisahan  merupakan   hal  yang  menggambarkan  seseorang  tidak  tentram  hati  maupun perbuatannya,  merasa  kwatir,  tidak  tenang  dalam  tingkah  lakunya,  tidak  sabar  ataupun  dalam  kecemasan.  Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak gerik seseorang dalam situai tertentu. Kegelisahan merupakan salah satu ekspresi kecemasan. Karena itu dalam pengertian sehari-hari kegelisahan juga diartikan kecemasan, kekwatiran ataupun  ketakutan.  Masalh  kecemasan  atau  kegelisahan  berkaitan  juga  dengan  masalah  frustasi,  yang  secara  definisi dapat  disebutkan,  bahwa  seseorang  mengalami  frustasi  karena  pa  yang  diinginkan  tidak  tercapai.  Sigmund  Freud  ahli psikoanalisa  berpendapat,  bahwa  ada  tiga  macam  kecemasan  yang  menimpa  manusia  yaitu  kecemasan  kenyataan (obyektif), kecemasan neorotik dan kecemasan moril. Kecemasan  obyektif  adalah  suatu  pengalaman  perasaan  sebagai  akibat  pengamatan  atau  suatu  bahaya  dalam dunia  luar.  Kecemasan neorotis timbul karena pengamatan tentang bahaya dari naluriah Kecemasan moril disebabkan karena pribadi seseorang. Bila dikaji sebab-sebab orang gelisah adalah karena hakekatnya orang takut kehilangan hak-haknya. Hal itu adalah akibat dari suatu ancaman, baik ancaman dari dalam maupun dari luar. Mengatasi kegelisahan ini pertama-tama dimulai dari  diri  kita  sendiri,  yaitu  kita  harus  bersikap  tenang.  Dengan  sikap  tenang  kita  dapat  berpikir  tenang,  sehingga  segala kesulitan dapat kita atasi.

Harapan

Setiap  manusia  mempunyai  harapan.  Manusia  yang  tanpa  harapan  berarti  manusia  itu  mati  dalam  hidup.  Orang yang  akan  meninggal  sekalipun  mempunyai  harapan,  biasanya  berupa  pesan-pesan  kepada  ahli  warisnya.  Harapan bergantung  paa  pengetahuan,  pengalaman,  lingkungan  hidup  dan  kemampuan  masing-masing.  Berhasil  atau  tidaknya suatu harapan tergantung   pada  usaha orang yang mempunyai harapan.  Harapan  harus berdasarkan  kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada  Tuhan yang maha esa. Agar harapan terwujud, maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Bila dibandingkan dengan cita-cita, maka harapan mengandung pengertian tidak terlalu muluk, sedangkan cita-cita pada umumnya perlu setinggi bintar. Antara harapan dan cita-cita terdapat persamaan yaitu : keduanya  menyangkut  masa  depan  karena  belum  terwujud,  pada  umumnya  dengan  cita-cita  maupun  harapan  orang menginginkan hal yang lebih baik atau meningkat.

Menurut Maslow sesuai dengan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia mempunyai harapan. Pada hakekatnya  harapan  itu  adalah  keinginan  untuk  memenuhi  kebutuhan  hidupnya.  Sesuai  dengan  kodratnya  harapan manusia atau kebutuhan manusia itu adalah kelangsugnan hidup, keamanan, hak dan kewajiban mencintai dan dicintai, diakui lingkungan, perwujudan cita-cita

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS)

Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi, metode atau prosedur. Model pembelajaran dimaksudkan sebagai pola interaksi siswa dengan guru di dalam kelas yang menyangkut strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas (Tim MKPBM, 2001). Beberapa model pembelajaran menurut Suprijono (2009) antara lain model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran langsung dan model pembelajaran berbasis masalah. Salah satu model pembelajaran alternatif yang dapat membantu siswa mengkonstruksikan pengalaman belajarnya sendiri adalah model pembelajaran kooperatif.

Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang heterogen dan dikelompokkan dengan tingkat kemampuan yang berbeda. Model pembelajaran kooperatif ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Ibrahim, dkk., 2000) :

(1)     siswa belajar dalam kelompok, secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.

(2)     kelompok siswa terdiri dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.

(3)     jika di dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan dalam setiap kelompok terdiri dari ras, suku, budaya, dan jenis kelamin yang berbeda pula.

(4)     penghargaan lebih diutamakan pada kerjasama kelompok daripada perorangan.

Isjoni (Stahl, 2009) menyatakan dengan melaksanakan model pembelajaran kooperatif, siswa memungkinkan dapat meraih keberhasilan dalam belajar, disamping itu juga bisa melatih siswa untuk memiliki keterampilan, baik keterampilan berpikir (thinking skill) maupun keterampilan sosial (social skill), seperti keterampilan untuk mengemukakan pendapat, aktif bertanya, menerima saran dam masukan dari orang lain, bekerja sama, rasa setia kawan, dan mengurangi perilaku yang menyimpang di kelas. Menurut Anita Lie (2008) model pembelajaran kooperatif akan dapat menumbuhkan pembelajaran efektif yaitu pembelajaran yang bercirikan saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, interaksi promotif, komunikasi antar anggota, pemprosesan kelompok.

Menurut Suprijono (2009) model pembelajaran kooperatif memiliki enam langkah utama yang dirangkum pada Tabel 1 berikut:

 

Tabel 1 Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif ada 6 (enam) fase

FASE-FASE

PERILAKU GURU

Fase 1 : menyampaikan tujuan dan mempersiapkan anak didik Menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa siap belajar
Fase 2 : menyajikan informasi Mempresentasikan informasi kepada siswa secara verbal
Fase 3 : mengorganisir peserta didik ke dalam tim-tim belajar Memberikan penjelasan kepada siswa tentang tata cara pembentukan tim belajar dan membantu kelompok melakukan transisi yang efisien
Fase 4 : membantu kerja tim dan belajar Membantu tim-tim belajar selama siswa mengerjakan tugasnya
Fase 5 : mengevaluasi Menguji pengetahuan siswa mengenai berbagai materi pembelajaran atau kelompok-kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase 6 : memberikan pengakuan atau penghargaan Mempersiapkan cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok

 

Suyatno (2009) menyatakan model pembelajaran kooperatif terdiri dari beberapa tipe, diantaranya Student Teams Achievement Division (STAD), Numbered Heads Together (NHT), Jigsaw, Think Pairs Share (TPS), Teams Games Turnament (TGT), Group Investigation (GI), Teams Assisted Individualy (TAI), dan Two Stay Two Stray (TSTS).

Model pembelajaran kooperatif tipe TSTS pertama kali dikembangkan oleh Spencer Kagan pada tahu 1992. TSTS berasal dari bahasa Inggris yang berarti “dua tinggal dua tamu”. Teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk membagikan hasil informasi dengan kelompok lain (Isjoni, 2009).

Menurut Suyatno (2009) model pembelajaran kooperatif tipe TSTS adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. Sintaknya adalah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap dikelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain, kerja kelompok, kembali ke kelompok asal, kerja kelompok, dan laporan kelompok.

Menurut Suprijono (2009) model pembelajaran kooperatif tipe TSTS atau dua tinggal dua tamu diawali dengan pembagian kelompok. Setelah kelompok terbentuk guru memberikan tugas berupa permasalahan-permasalahan yang harus mereka diskusikan jawabannya. Setelah diskusi intrakelompok selesai, dua orang dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lain. Anggota kelompok yang tidak mendapat tugas sebagai duta (tamu) mempunyai kewajiban menerima tamu dari suatu kelompok. Tugas mereka adalah menyajikan hasil kerja kelompoknya kepada tamu tersebut. Dua orang yang bertugas sebagai tamu diwajibkan bertamu kepada semua kelompok. Jika mereka telah selesai melaksanakan tugasnya, mereka kembali ke kelompoknya masing-masing. Setelah kembali ke kelompok asal, baik siswa yang bertugas bertamu maupun mereka yang bertugas menerima tamu mencocokkan dan membahas hasil kerja yang telah mereka tunaikan.

Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TSTS sebagai berikut :

(1)     guru menyampaikan materi pelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai.

(2)     guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang siswa secara heterogen dengan kemampuan berbeda-beda baik tingkat kemampuan (tinggi, sedang, dan rendah) maupun jenis kelamin.

(3)     guru memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) atau tugas untuk dibahas dalam kelompok.

(4)     siswa 2-3 orang dari tiap kelompok berkunjung ke kelompok lain untuk mencatat hasil pembahasan LKS atau tugas dari kelompok lain, dan sisa kelompok tetap dikelompoknya untuk menerima siswa yang bertamu ke kelompoknya.

(5)     siswa yang bertamu kembali ke kelompoknya masing-masing dan menyampaikan hasil kunjungannya kepada teman yang tetap berada dalam kelompok. Hasil kunjungan dibahas bersama dan dicatat.

(6)     hasil diskusi kelompok dikumpulkan dan salah satu kelompok mempresentasikan jawaban mereka, kelompok lain memberikan tanggapan.

(7)     guru memberikan klarifikasi terhadap jawaban yang benar.

(8)     guru membimbing siswa merangkum pelajaran.

(9)     guru memberikan penghargaan secara kelompok.

Menurut Fatirul (2008) kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS yaitu dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan semua tingkat usia siswa. Model ini tidak hanya bekerja sama dengan anggota sekelompok tetapi bisa juga bekerja sama dengan kelompok lain yang memungkinkan terciptanya keakraban sesama teman dalam suatu kelas dan lebih berorientasi pada keaktifan siswa. Sedangkan kekurangan dari model pembelajaran kooperatif tipe TSTS ini yaitu jumlah siswa dalam satu kelas tidak boleh ganjil harus berkelipatan empat dan peralihan dari seluruh kelas ke kelompok kecil dan kunjungan dari 2 orang anggota kelompok yang satu ke kelompok lain membutuhkan perhatian khusus dalam pengelolaan kelas serta dapat menyita waktu pengajaran yang berharga. Selain itu, guru juga harus membutuhkan banyak persiapan.

Secara umum desain model pembelajaran kooperatif tipe TSTS dapat dilihat pada Gambar 1 yang merupakan modifikasi dari desain pembelajaran dengan strategi Tink-Talk-Write (Yamin & Ansari, 2008).

RPP kooperatif two stay two stray (TSTS)

Model Pembelajaran dan Model Quantum Teaching

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Menurut Eggen dan Kauchak model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk mengajar. Menurut Joyce model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum dan lain-lain. Setiap model pembelajaran mengarahkan guru dalam mendesain pembelajaran untuk membantu siswa sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai (Trianto, 2007).

Menurut Widdiharto (2004) model pembelajaran adalah suatu tindakan atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan guru agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat dicapai dengan lebih efektif dan efesien.

Menurut Tim MKPBM (2001) model pembelajaran dimaksudkan sebagai pola interaksi siswa dengan guru di dalam kelas yang menyangkut strategi, pendekatan, metode dan teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksaaan kegiatan belajar mengajar di kelas.

Menurut Trianto (2007) istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur. Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut ialah :

(1)   rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya,

(2)   landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai),

(3)   tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil,

(4)   lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

Model quantum teaching pertama kali muncul di Super Camp, sebuah program percepatan Quantum Learning yang ditawarkan oleh learning Forum. Learning Forum adalah sebuah perusahaan yang pendidikan internasional yang menekankan pada perkembangan keterampilan akademis dan keterampilan pribadi seseorang. Hasilnya menunjukkan bahwa murid-murid yang mengikuti Super Camp mendapat nilai yang lebih baik, lebih banyak berpartisipasi dan merasa lebih bangga akan diri mereka sendiri (A’la, 2010).

Menurut DePorter, dkk (2010) model quantum teaching terbagi atas dua bagian yaitu:

  1. Konteks

Konteks adalah latar atau lingkungan belajar yang merupakan keakraban ruang kelas itu sendiri, meliputi suasana, landasan serta rancangan belajar yang merupakan suatu keseimbangan instrumen dalam membangun kerja sama antara guru dan siswa. Guru menghendaki konteks tersebut positif, mendukung dan mengundang selera. Konteks dalam pembelajaran quantum teaching mempunyai empat aspek:

(a)                            suasana yang memberdayakan

Suasana kelas mencakup bahasa yang dipilih, cara menjalin rasa simpati terhadap siswa dan sikap guru terhadap sekolah serta belajar. Suasana pembelajaran penuh kegembiraan. Hindari suasana matematika kaku, dingin dan menyeramkan,

 

 

(b)   landasan yang kukuh

Landasan adalah kerangka kerja, tujuan, prinsip, keyakinan, kesepakatan, kebijakan, prosedur dan aturan bersama yang memberi guru dan siswa sebuah pedoman untuk bekerja dalam komunitas belajar matematika,

(c)    lingkungan yang mendukung

Lingkungan adalah cara guru atau sekolah menata ruang kelas, pencahayaan, warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, musik dan semua hal yang dapat mendukung proses belajar,

(d)   rancangan belajar yang dinamis

Rancangan adalah penciptaan terarah unsur-unsur penting yang bisa menumbuhkan minat siswa, mendalami makna dan memperbaiki proses tukar-menukar informasi. Dalam arti informasi awal yang diperoleh siswa dalam mengenal konsep dan penjelasan pelajaran dari guru tentang konsep yang bersangkutan. Ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam mengorkestrasi  perancangan pengajaran yang dinamis, yaitu:

1)      memberitahu siswa manfaat materi pelajaran yang akan dipelajari,

2)      menyajikan isi pelajaran dengan menggunakan unsur visual, auditorial dan kinestetik,

3)      materi pelajaran diajarkan pertama kali pada kelompok besar (seluruh kelas), kemudian buat kelompok kecil atau pasangan dan terakhir selesaikan secara perseorangan (menjawab pertanyaan di depan kelas, pekerjaan rumah, tes atau kuis),

4)      pembelajaran dapat dilakukan dengan pemberian cerita (metafora), perumpamaan, sugesti dan

5)      melaksanakan kerangka rancangan pengajaran TANDUR.

  1. Isi

Isi adalah bagaimana tiap frase materi pembelajaran diberikan yakni meliputi cara penyajian oleh guru. Isi juga meliputi fasilitasi guru dan memanfaatkan bakat setiap siswanya. Isi dalam pembelajaran quantum teaching mempunyai empat aspek:

(a)    penyajian yang prima

Guru adalah model (teladan) untuk ditiru. Oleh karena itu guru harus menggunakan cara komunikasi yang sama dan sebangun dalam penyampaian materi terhadap siswa, karena setiap cara penyampaian materi yang digunakan, akan sangat berpengaruh terhadap cara siswa menerima pembelajaran. Guru adalah faktor paling berpengaruh dalam kesuksesan siswa sebagai pelajar. Dr. Georgi Lozanov menyatakan bahwa tindakan yang paling ampuh yang dapat dilakukan oleh guru untuk siswanya adalah dengan memberikan teladan tentang makna menjadi seorang pelajar. Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan presentasi yang prima, yaitu:

 

 

 

1)      sikap quantum teacher (antusias, berwibawa, positif, supel, humoris, luwes, menerima, fasih, tulus, spontan, menarik dan tertarik, menganggap siswa mampu, menetapkan dan memelihara harapan tinggi),

2)      empat prinsip komunikasi ampuh meliputi munculkan kesan, arahkan fokus, inklusif (bersifat mengajak) dan spesifik (bersifat tepat sasaran),

(b)   fasilitasi yang luwes

Memudahkan tingkat partisipasi siswa dengan memfasilitasi proses pembelajaran. Pertama, selalu mulai dengan mengetahui apa yang diinginkan sebagai hasil akhir. Mulailah dengan visi yang jelas mengenai hasilnya. Hasil tersebut bisa berupa tingkat hormat di kelas, kualitas kerja, jangka waktu untuk menyelesaikan tugas dan lain-lain. Dengan mengetahui hasil yang diinginkan secara jelas, maka guru akan mampu tetap berada pada jalur proses kegiatan belajar mengajarnya,

(c)    keterampilan belajar untuk belajar

Membuat siswa mengetahui gaya belajarnya masing-masing, setiap orang belajar dengan cara yang berbeda-beda. Siswa belajar lebih cepat dan lebih efektif jika mereka menguasai keterampilan konsentrasi terfokus, cara mencatat, organisasi dan persiapan tes, membaca cepat dan teknik mengingat,

(d)   keterampilan hidup

Hal-hal yang dicapai pada kehidupan nyata, mengenai kepercayaan diri, mempelajari cara-cara mengekspresikan diri dan merasa bersemangat mengenai kemungkinan-kemungkinan potensi diri mereka. Ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan keterampilan hidup, yaitu: 1) hidup di atas garis, 2) komunikasi yang jernih dan 3) membina hubungan dengan pertalian.

Model quantum teaching dirancang dalam suatu kerangka rancangan pengajaran yang dikenal dengan singkatan TANDUR (DePorter dkk., 2010). TANDUR merupakan singkatan dari:

(1) tumbuhkan

Tumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah manfaat bagiku (AMBAK) dan manfaat kehidupan siswa”.

Dalam hal ini guru memberikan motivasi, semangat dan apersepsi. Langkah-langkah tersebut dilakukan pada saat kegiatan pendahuluan pembelajaran.

(2) alami

Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua siswa.

Siswa mengalami sendiri dalam proses memperoleh pengetahuan dengan praktek langsung dalam menyelesaikan masalah. Siswa berdiskusi, mengerti dan memahami pelajaran. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat kegiatan inti pembelajaran.

(3) namai

Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi dan sebuah masukan.  Mereka mendapatkan pengalaman untuk benar-benar membuat pengetahuan tersebut berarti.

Dalam hal ini siswa menemukan rumus, informasi dan pengetahuan-pengetahuan baru dengan alat bantu pembelajaran. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat kegiatan inti pembelajaran.

(4) demontrasikan

Sediakan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan bahwa mereka tahu. Siswa membutuhkan kesempatan yang sama untuk membuat kaitan, berlatih dan menunjukkan apa yang mereka ketahui.

Siswa diberi peluang untuk menerapkan pengetahuan mereka dalam pelajaran, sehingga siswa bisa menunjukkan dan menyampaikan kemampuannya yang telah didapat, dialami sendiri oleh siswa. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat kegiatan inti pembelajaran.

(5) ulangi

Tunjukkan siswa cara-cara mengulang materi dan menegaskan, “aku tahu bahwa aku memang tahu ini”.

Guru mengulang materi pembelajaran sehingga siswa akan selalu teringat dengan materi yang telah dipelajarinya. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat kegiatan inti pembelajaran.

(6) rayakan

Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan.

Rayakan dapat berupa pujian. Siswa saling memuji antar teman dengan memberikan tepuk tangan dan bersama-sama mengucapkan 3 kali hore. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat kegiatan penutup pembelajaran.

RPP Quantum teaching